nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Meninggal Terinjak Kerbau dalam Prosesi Adat Toraja, Korban Tak Bisa Menuntut

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Kamis 10 Januari 2019 01:19 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 10 340 2002320 meninggal-terinjak-kerbau-dalam-prosesi-adat-toraja-korban-tak-bisa-menuntut-Bhqw5zryA5.jpg Kerbau yang Menabrak Warga Toraja hingga Tewas Ditembak Polisi (foto: BBC News Indonesia)

TORAJA - Seorang warga di Toraja Utara, Sulawesi Selatan, meninggal dunia akibat terinjak kerbau dalam acara adat, kejadian yang tak boleh dituntut oleh keluarga korban berdasarkan tradisi setempat.

Peristiwa ini terjadi saat prosesi adat Rambu Solo di Sesean, tradisi dimulainya pesta kematian, dengan menyembelih satu ekor kerbau oleh keluarga.

loading...

Namun sebelum disembelih, kerbau mengamuk dan lari ke desa lain, dan menabrak dan menginjak Ne' Sarce, warga yang tengah memetik sayur di kebunnya untuk hewan yang dipeliharanya.

Polisi Sektor Sesean menembak kerbau dengan senjata laras panjang agar tak menimbulkan korban lebih lanjut, kata wartawan setempat Jufri Tonapa yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

"Kejadiannya tadi, dan atas permintaan keluarga yang melakukan pesta adat Rambu Solo, personil kami dari Polsek Sesean melumpuhkan kerbau tersebut dengan tembakan, ini juga dilakukan agar kerbau yang mengamuk tersebut tidak kembali memakan korban," kata Kapolres Tana Toraja, Julianto P. Sirait.

Warga beristirahat setelah upacara Rambu Solo (foto: BBC News Indonesia)	Warga beristirahat setelah upacara Rambu Solo (foto: BBC News Indonesia) 

Peristiwa serupa juga pernah terjadi sebelumnya. Musa Salama, tokoh adat di Toraja Utara mengatakan kejadian ini disebut sebagai "Mate Nalese Tedong" atau meninggal diinjak kerbau, sehingga pihak keluarga dari korban yang meninggal tersebut tidak dapat menuntut kepada keluarga yang melakukan upacara kematian.

"Pihak keluarga Lai' Boba atau Ne' Sarce yang ditabrak dan diinjak kerbau hingga meninggal dunia, berdasarkan budaya dan adat istiadat setempat tidak bisa menuntut karena ini "Mate Nalesse tedong" (Meninggal diinjak kerbau)," kata Musa Salama, Tokoh Adat di Bori, Toraja Utara.

Berdasarkan kepercayaan adat setempat, kerbau yang disembelih menjadi tunggangan mereka yang meninggal menuju nirwana.

Rambu Solo adalah upacara kematian untuk menghormati orang tua yang telah meninggal sebagai pertanda hormat atas jasa-jasa semasa hidupnya.

Menurut pemuka adat, kerbau dalam keseharian masyarakat Toraja merupakan hewan yang sangat tinggi maknanya dan dianggap suci.

Polisi dan warga mengejar dan menembak kerbau yang lari sebelum disembelih (foto: BBC News Indonesia)	Polisi dan warga mengejar dan menembak kerbau yang lari sebelum disembelih (foto: BBC News Indonesia) 

Hewan ini melambangkan tingkat kemakmuran seseorang dengan harga satu ekor kerbau bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Namun pemuka adat setempat mengakui bahwa tingkat keamanan dalam upacara adat seperti ini sangat minim. Kerbau yang akan disembelih biasanya diikat di halaman tempat upacara akan berlangsung.

Kepolisian Sektor Sesean tetap melakukan pengamaman di seputar tempat upacara kematian ini.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini