nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Aksi Bongkar Makam karena Beda Pilihan Caleg di Gorontalo Menuai Keprihatinan Publik

Athallah Muti, Jurnalis · Sabtu 12 Januari 2019 17:34 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 01 12 337 2003581 aksi-bongkar-makam-karena-beda-pilihan-caleg-di-gorontalo-menuai-keprihatinan-publik-mNdeD6DtPM.jfif Prosesi pemindahan makam di Gorontalo (Jufri/Okezone)

JAKARTA – Pembongkaran dan pemindahan dua makam gara-gara perbedaan pilihan politik di Dusun II, Desa Toto Selatan, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, menuai keprihatinan publik. Ini harus menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi elite politik.

Pengamat sosial dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Yosafat Hermawan Trinugroho mengatakan, peristiwa yang terjadi di Gorontalo tersebut sebagai “fenomena yang memprihatinkan.”

“Politik seolah telah kehilangan makna dasarnya yaitu bagaimana kita seharusnya mengelola hidup bersama tanpa harus kehilangan kemanusiaan kita,” kata Yosafat kepada Okezone, Sabtu (12/1/2019).

Berbeda pandangan dan sikap politik seharusnya bukan menjadi alasan untuk saling mengeksklusi dan melakukan tindak kekerasan satu sama lain.

“Mungkin ini jadi salah satu PR besar para elite politik kita saat ini, untuk terus melakukan pendidikan politik yg semakin mendewasakan di tingkat bawah,” ujarnya.

Pembongkaran makam di Gorontalo (Jufri/Okezone)

Dua makam yang dibongkar di Dusun II adalah milik Masri Dunggio yang sudah dikubur 26 tahun lamanya. Kemudian makam Siti Aisyah Hamsah yang baru berumur satu tahun. Keduanya adalah kakek dan cucu.

Makam yang berada di belakang rumah warga bernama Awono dibongkar dan dipindahkan oleh keluarga ahli waris, setelah terjadi perselisihan dengan pemilik lahan yang sebenarnya bersepupu dengan almarhum.

(Baca juga: Gara-Gara Beda Pilihan Caleg, Makam Kakek dan Cucu di Gorontalo Dipindah)

Pemicunya adalah perbedaan pilihan politik pemilihan caleg DPRD Kabupaten Bone Bolango. Awono memiliki ikatan keluarga dengan caleg tersebut. Dia ingin agar caleg Naini atau Iriani yang merupakan kerabatnya dipilih saat pemilu.

Awono diduga mengancam kalau keluarga almarhum tidak memilih caleg itu, maka makam silakan dibongkar dan tidak boleh ada yang bisa dikubur di situ.

Setelah dimediasi dan buntu, keluarga almarhum kemudian membongkar dua makam dan memindahkannya. Prosesi pemindahan makam itu diwarnai isak tangis keluarga.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini