Masyarakat Direlokasi
Masyarakat yang masuk dalam kawasan rawan bencana, sampai Ketut, bakal di relosi ke tempat yang lebih aman. Di mana dari Pemkab Lampung Selatan, telah menyediakan areal lahan seluas sekira 6 hektare (Ha) di Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan.
Namun, masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana, lanjut Ketut, tidak ingin di relokasi. Penyebabnya, mereka memiliki pekerjaan di daerah tersebut sebagai nelayan dan petani. Alasannya lainnya, mereka tidak ingin meninggalkan rumah yang sudah lama ditempati selama ini.

"Rencananya memang mau di relokasi. Sekarang masih dirumuskan dan dicarikan lokasi yang pas," ujar Ketut.
Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Tejang Pulau Sebesi Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan, Syamsiar mengatakan, daerah-nya menjadi salah satu wilayah yang terdampak letusan gunung Anak Krakatau, yang memicu gelombang tsunami, pada Sabtu 22 Desember 2019, malam.
Saat bencana alam itu, satu warga pulau Sebesi meninggal dunia, satu meninggal dunia, 1.156 orang luka ringan. Tidak hanya itu, 79 rumah rusak berat dan 62 rusak sedang. Dengan total kerusakan bangunan rumah di desa Tejang Pulau Sebesi Kecamatan Rajabasa, sebanyak 141 rumah.
Berselang beberapa hari kemudian atau pada Kamis 27 Desember 2018, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menginformasikan kenaikan status Gunung Anak Krakatau dari level II (waspada) menjadi level III (siaga). Peningkatan status tersebut seiring meningkatnya aktivitas gunung api tersebut.
Di mana, BNPB menyatakan masyarakat harus menghindari kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 kilometer dan mewaspadai tsunami. Sehingga masyarakat di desa Tejang Pulau Sebesi Kecamatan Rajabasa, musti diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Sebanyak 2.337 jiwa dari 2.811 jiwa masyarakat yang menempati Pulau Sebesi, diungsikan ke Kecamatan Kalianda, Kecamatan Rajabasa serta ke daerah di pulau Jawa, pada Jumat 28 Desember 2018. Sementara 474 jiwa, saat erupsi gunung Anak Krakatau memilih bertahan di pulau Sebesi atau tidak ingin diungsikan.
"Di Pulau Sebesi dihuni 2.811 jiwa dengan 765 kepala keluarga (KK). Saat gunung Anak Krakatau erupsi 2.337 jiwa dievakasi. Masyarakat dievakuasi ke daerah Kalinda, Rajabasa dan sekira 400 jiwa mengungsi ke daerah pulau Jawa. Sementara 474 jiwa lainnya memilih bertahan di pulau dan tidak ingin diungsikan," kata Syamsiar, saat dikonfrimasi Okezone, melalui sambungan telefon genggamnya, Rabu 16 Januari 2019.