Masyarakat Ogah Tinggalkan Pulau Sebesi
Disinggung apakah masyarakat pulau Sebesi tidak takut, jika bencana alam kembali menerjang? Syamsiar menjelaskan, warga-nya tidak ingin meninggalkan desa yang sudah menjadi tanah kelahiran mereka. Terlebih tokoh masyarakat yang telah puluhan tahun menempati pulau yang hanya berjarak sekira 19 kilometer (KM) dari gunung Anak Krakatau, ini.
Masyarakat di pulau Sebesi, jelas Syamsiar, mayoritas bekerja sebagai nelayan dan pekebun. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari masyarakat hanya mengandalkan hasil tangkapan dan hasil pertanian. Jika mereka diungsikan tentu mata pencaharian mereka tidak dapat terpenuhi.
"Kalau dibilang takut, tentu kami takut. Tapi, masyarakat tidak ingin meninggalkan kampung halaman mereka. Apa lagi pulau Sebesi menjadi tanah kelahiran," ujar Syamsiar.

Penanggulangan bencana yang dialami masyarakat pulau Sebesi, jelas Syamsiar, dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat telah memberikan langkah cepat dalam mengambil tindakan untuk ribuan warga pulau Sebesi. Bahkan, saat bencana dan paska bencana pun pemerintah tetap hadir di tengah-tengah masyarakat.
Syamsiar mencontohkan, tim dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah terjun ke pulau Sebesi. Langkah tersebut guna melihat pemukiman penduduk yang rusak akibat terjangan tsunami serta meninjau lokasi yang akan dijadikan kawasan relokasi masyarakat terdampak bencana.
"Tim dari perumahan rakyat sudah meninjau lokasi rumah-rumah yang rusak di pulau Sebesi," ujar Syamsiar.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.