Sempat Dievakuasi, Masyarakat Pulau Sebesi Kembali ke Kampung Halaman
Saat ini, sampai Syamsiar, masyarakat yang sempat dievakuasi sudah kembali kembali rumah masing-masing, pulau Sebesi. Masyarakat yang kembali ke pulau Sebesi itu, kata Syamsiar, tidak kurang dari 90 jiwa. Sisanya, 10 persen warga tetap bertahan di lokasi pengungsian di daerah wisma Atlet gedung olah raga (GOR), Kecamatan Kalinda.
Ribuan warga yang kembali ke pulau Sebesi, lanjut Syamsiar, merupakan warga yang bangunan rumah-nya tidak rusak akibat terjangan gelombang tsunami, pada Sabtu 22 Desember 2019, malam. Mereka yang kembali tersebut mulai beraktivitas seperti semula. Ke areal perkebunan dan sebagian nelayan yang alat tangkap tidak rusak pergi melaut.

Untuk ratusan warga yang bertahan di lokasi pengungsian Kalianda, rumah mereka tersapu gelombang tsunami dan tidak dapat ditinggali kembali atau rata dengan tanah. Bahkan, perlengkapan dan peralatan alat tangkap saat melaut milik warga tidak dapat dipergunakan lagi. Mulai dari perahu serta perlengkapan pendukung lainnya.
"Mereka yang menetap di lokasi pengungsian tidak bisa kembali ke rumah, karena rumah sudah rusak dan tidak dapat ditinggali lagi. Begitu juga dengan alat tangkap untuk melaut yang selama ini menjadi mata pencaharian sudah rusak dan tidak dapat dipergunakan lagi," jelas Syamsiar.
Pemukiman penduduk yang rusak berat akibat terjangan gelombang tsunami, sambung Syamsiar, direncanakan akan di relokasi di pulai Sebesi. Relokasi itu, sampai Syamsiar, berjarak sekira 400 meter dari bibir pantai. Di mana relokasi tersebut diperuntukkan pemukiman warga yang rusak dan tidak dapat dihuni kembali.
"Rencana rumah yang terdampak gelombang tsunami akan ke relokasi di pulau Sebesi. Pembangunan rumah itu 400 meter dari bibir pantai. dan masyarakat yang akan di relokasi tidak boleh menempati atau membangun rumah yang lama," imbuh Syamsiar.