BAMAKO – Sepuluh anggota pasukan penjaga perdamaian PBB terbunuh dari sedikitnya 25 lainnya terluka saat menghalau serangan dari kelompok bersenjata di sebuah desa di Mali utara. Sejauh ini identitas pelaku penyerangan itu belum diketahui dengan pasti.
PBB menempatkan pasukan penjaga perdamaian dari Amerika Serikat (AS) dan Prancis di Mali utara untuk menghadapi kelompok-kelompok ekstremis bersenjata yang dianggap mengancam keamanan di seluruh kawasan Sahel Afrika.
Dalam pernyataanya, Misi Penjaga Perdamaian AS di Mali (MINUSMA) mengatakan, bentrokan terjadi di dekat Desa Aguelhok pada Minggu pagi menyusul serangan oleh militan yang menggunakan banyak kendaraan bersenjata.
PBB mengatakan pasukan penjaga perdamaian telah berhasil menggagalkan serangan itu, tetapi 10 tentaranya tewas dan sedikitnya 25 lainnya cedera.
"Sekretaris Jenderal menegaskan kembali bahwa tindakan seperti itu tidak akan mengurangi tekad Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk terus mendukung rakyat dan Pemerintah Mali dalam upaya mereka untuk membangun perdamaian dan stabilitas di negara ini," demikian disampaikan dalam pernyataan yang dilansir Reuters, Senin (21/1/2019).
Kesepakatan damai 2015 yang ditandatangani oleh pemerintah Mali dan kelompok-kelompok separatis telah gagal mengakhiri kekerasan d negara Afrika barat itu. Kelompok-kelompok Islamis juga terus melakukan serangan terhadap sasaran-sasaran penting di ibukota, Bamako, dan di negara tetangga, Burkina Faso dan Pantai Gading.
Pasukan Prancis melakukan intervensi di Mali pada 2013 untuk mengusir para militan yang telah membajak sebuah pemberontakan Tuareg setahun sebelumnya, dan menempatkan sekira 4.000 tentara Prancis di sana. Dewan Keamanan PBB kemudian turut mengerahkan pasukan penjaga perdamaian, yang telah menjadi target serangan gerilya yang terencana.
(Rahman Asmardika)