nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tembak Mati Adik Ipar, Mantan Wakapolres Lombok Tengah Dibebaskan dari Tuntutan

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Senin 21 Januari 2019 15:43 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 21 608 2007327 tembak-mati-adik-ipar-mantan-wakapolres-lombok-tengah-dibebaskan-dari-tuntutan-TcHEohZNzk.jpg Mantan Wakapolres Lombok Tengah dihadirkan saat konfrensi pers di Polda Sumut. Foto/Okezone

MEDAN – Mantan Wakapolres Lombok Tengah, Kompol Fahrizal dibebaskan dari tuntutan hukum atas kasus pembunuhan terhadap Jumingan (33), yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.

Peristiwa penembakan terjadi di rumah keluarga Fahrizal di Kawasan Medan Tembung, Kota Medan awal April 2018 lalu.

Pembebasan Fahrizal dari tuntutan hukum, dibacakan oleh Jaksa Penuntunt Umum (JPU) Randiman Tambunan pada persidangan dengan agenda tuntutan yang dilaksanakan di Pengadilan Negeri Medan, Senin (21/1/2019) siang.

Dalam persidangan itu, JPU menilai bahwa Fahrizal telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penembakan hingga tewasnya Jumingan. Namun mantan Kasat Reskrim Polresta Medan itu tidak dituntut karena mengalami gangguan jiwa.

"Intinya terbukti melanggar Pasal 338 KUHP, tapi terhadap terdakwa tidak dapat diminta pertanggungjwaban pidana karena pada saat kejadian, kondisi kejiwaan terdakwa terganggu. Jadi sesuai dengan ketentuan Pasal 44 KUHP jika terdakwa mengalami gangguan jiwa dia tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana,"ujar Julisman, penasehat hukum Fahrizal.

Baca: Tembak Mati Adik Ipar, Wakapolres Lombok Tengah Terancam Hukuman Mati 

Baca: Tembak Adik Ipar, Wakapolres Lombok Tengah Diduga Belajar Ilmu Hitam

Julisman mengapreasiasi tuntutan yang dibacakan oleh JPU Randi Tambunan ini. Pasalnya hal ini, kata Julisman sesuai dengan fakta persidangan.

"Faktanya pada saat penembakan, terdakwa sedang mengalami gangguan kejiwaa sesuai keterangan dokter Rumah Sakit Jiwa M Ildrem. Jaksa sepertinya mengajukan tuntutan berdasarkan keterangan ahli kejiwaan itu," terangnya.

Meski tuntutan yang diajukan sudah sesuai fakta persidangan, namun Julisman mengaku timnya akan tetap mengajukan pembelaan pada persidangan sepekan mendatang. "Kami akan serahkan putusannya pada majelis hakim," sebutnya.

Dalam kasus itu, Kompol Fahrizal didakwa melakukan pembunuhan karena menembak mati adik iparnya, Jumingan. Usai aksinya itu, Kompol Fahrizal menyerahkan diri ke Kantor Polisi.

Ia kemudian dinyatakan mengalami skizofrenia paranoid pada tanggal 23 April 2019 oleh dokter RS Jiwa Prof Dr Muhammad Ildrem, yang ditunjuk Polisi untuk melakukan pemeriksaan.

“Penembakan yang dilakukan Fahrizal terhadap Jumingan, dilakukan tanpa sadar atau di luar logika kesadarannya. Bahkan, terdakwa datang ke lokasi kejadian awalnya hanya untuk melihat ibunya Sukartini yang baru sembuh dari sakit,” tandasnya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini