nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Trump: Penggunaan Kekuatan Militer di Venezuela adalah "Suatu Opsi"

Agregasi VOA, Jurnalis · Jum'at 08 Februari 2019 09:04 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 08 18 2015157 trump-penggunaan-kekuatan-militer-di-venezuala-adalah-suatu-opsi-fpaI2z3Pfe.jpg Donald Trump dan Nicholas Maduro. (Foto: AP)

PENGGUNAAN kekuatan militer yang mungkin dilakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro meningkatkan kekhawatiran tentang potensi jatuhnya korban jiwa dan konsekuensi lain yang tidak diinginkan akibat keterlibatan pasukan AS dalam konflik lain di luar negeri.

Wartawan VOA Brian Padden melaporkan, meskipun para pendukung opsi ini mengatakan hanya "kekuatan koersif" yang dapat membuat Presiden Nicolas Maduro mundur, mereka yang menentang opsi ini menilai tindakan AS justru dapat meningkatkan dukungan bagi pemimpin sosialis itu.

Presiden AS Donald Trump dalam pidato kenegaraannya Selasa 5 Februari 2019 mengatakan bahwa penggunaan kekuatan militer di Venezuela merupakan "suatu opsi" tetapi juga ditekankan kongres perlu menurunkan keterlibatan militer yang menelan banyak anggaran di seluruh dunia.

"Sebagai calon presiden dulu, saya pernah menekankan pendekatan baru. Negara besar tidak terlibat perang yang tidak ada habisnya," kata Trump.

Amerika Serikat, sebagian negara-negara di Amerika Latin dan Eropa, telah mengakui pemimpin Majelis Nasional Venezuela Juan Guaido sebagai presiden sementara negara itu. Mereka menilai Presiden Nicolas Maduro tidak memiliki legitimasi karena berbuat curang dalam pemilu presiden tahun lalu.

Kebijakan-kebijakan sosialis Maduro telah membuat perekonomian negara yang kaya minyak tersebut menuju kehancuran dengan terjadinya inflasi yang luar biasa besar, kelangkaan makanan dan obat-obatan, kemiskinan, serta jutaan orang melarikan diri ke luar negeri.

Pemimpin oposisi Venezuela, Juan Guaido. (Foto: Reuters)

Pemerintahan Trump telah meningkatkan tekanan ekonomi dengan membekukan pendapatan Venezuela dari minyak guna mendorong mundurnya Maduro.

Mereka yang mendukung opsi penggunaan kekuatan militer mengatakan hal ini mungkin perlu dan akan disambut oleh sebagian besar warga Venezuela untuk menyingkirkan pemerintahan Maduro yang diduga terlibat perdagangan narkoba.

Pengamat politik dari The Heritage Foundation Ana Quintana mengatakan, "Hal ini tampaknya semakin disukai banyak warga Venezuela. Kekuatan koersif dinilai sebagai sebagai satu-satunya cara untuk menyingkirkan pemerintahan kriminal itu."

Sementara mereka yang menentang opsi tersebut menilai krisis kemanusiaan di Venezuela tidak menimbulkan ancaman keamanan bagi AS.

Sebuah catatan dengan tulisan tangan '5.000 personel pasukan ke Kolombia' terlihat dalam catatan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton ketika mendampingi Presiden Trump dalam sebuah konferensi pers beberapa pekan lalu. Hal ini memicu spekulasi bahwa pasukan AS mungkin akan diterjunkan ke perbatasan Kolombia dengan Venezuela.

Pakar politik di US Army War College Evan Ellis mengatakan, "Kemungkinan yang terbayang adalah apakah pasukan perlu dikirim ke Venezuela dan melakukan operasi kemanusiaan, atau dikirim untuk melakukan jenis operasi lain –seperti melindungi anggota-anggota pemerintahan atau Majelis Nasional pimpinan Juan Guaido yang berisiko."

Tetapi operasi yang sangat fokus pun berisiko melibatkan AS dalam konflik berkepanjangan dengan militer Venezuela dan dapat meningkatkan dukungan bagi Maduro di dalam negeri dan di kawasan itu.

Analis Amerika Latin di Center for Economic and Policy Research Alexander Main mengatakan, "Jika tujuan Gedung Putih adalah terjadinya perubahan rezim di Venezuela, mereka seharusnya juga mempertimbangkan bahwa tindakan itu mungkin akan menjadi bumerang bagi warga Amerika di Venezuela dan di kawasan itu."

Kanada dan negara-negara besar di Amerika Latin juga telah mengingatkan tentang penggunaan kekuatan militer di Venezuela.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini