nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Seperti Apa Valentine di Mata Anak Milenial? Simak Komentar Mereka

Witri Nasuha, Jurnalis · Kamis 14 Februari 2019 18:28 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 14 337 2018044 seperti-apa-valentine-di-mata-anak-milenial-simak-komentar-mereka-dn9SmYOF2p.jpg Ilustrasi

JAKARTA – Perayaan Valentine atau Hari Kasih Sayang pada setiap 14 Februari masih menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat Indonesia. Ada yang tak mempermasalahkan dirayakan, tapi ada juga yang menentang dengan alasan itu bukan bagian dari ajaran agama.

Valentine biasanya dirayakan dengan memberikan cokelat, mawar, kartu ucapan atau barang lain kepada pasangan sebagai tanda kasih sayang.

Lalu, seperti apa tanggapan masyarakat milenial terhadap masalah ini?

Nurfina Fitri Melina (20) alias Fina, mahasiswa tingkat akhir Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) tak mempermasalahkan perayaan Valentine.

“Hari Valentine itu kan perayaan tahunan yang dispesialin, jadi hari kasih sayang sama orang-orang dan menurut saya bebas seseorang mau merayakan hari itu atau enggak. Kalau saya sendiri enggak merayakan karena selain jomblo, terlepas dari hal agama,” katanya kepada Okezone, Kamis (14/2/2019).

Tapi, dia kurang setuju jika kasih sayang hanya dirayakan saat Valentine saja. “Hari kasih sayang enggak harus dispesialin di suatu hari. Hari Ibu pun menurut saya hari kasih sayang, atau di hari-hari biasa pun bisa,” ujarnya.

Dia tak setuju jika ada orang yang tak menentang Valentine karena alasan agama, maka bertindak berlebihan atau beranggapan buruk terhadap mereka yang merayakannya.

“Kalaupun tujuannya untuk mengingatkan dan berlandaskan agama, enggak perlu dengan cara nyinyir atau menjudge orang lain, ingatkan lah dengan cara yang baik,” ujarnya.

Arina Ristahanta (23) menganggap Valentine sama dengan hari lainnya. “Untuk mengucapkan rasa saya kita bisa lakukan setiap hari dalam hidup ini,” kata karyawan swasta di Jakarta itu.

Namun, Arini tak setuju jika Valentine dianggap sebagai hari penyebaran HIV dan AIDS, seperti stigma sebagian masyarakat.

“Saya merasa stigma tersebut salah dan hanya sebuah anggapan buruk bagi orang-orang yang membenci Valentine. Semuanya balik lagi kepada persepsi masing-masing individu dalam menganggap Hari Valentine,” ujarnya.

Menurut Muhammad Tarmidzi (21), Duta GenRe DKI Jakarta Jalur Pendidikan Putra 2018, Valentine hanya bagian perayaan simbolik yang tidak perlu diperdebatkan.

“Karena pada dasarnya memberikan kasih sayang dapat dilakukan kapan pun,” katanya.

“Saya akan memberikan kasih sayang penuh bagi orang terkasih kapan pun dia minta. Jika dia meminta kasih sayangnya bertepatan dengan Valentine ya saya tidak dapat menolaknya.”

Cut Annisa (20), perempuan Jakarta Selatan juga tak mengganggap Valentine sebagai hari yang sakral. “Valentine biasa saja karena bagi saya hari kasih sayang itu tiap hari,” ujarnya.

Namun, dia memanfaatkan momentum Valentine itu untuk menikmati berbagai promo yang sering ditawarkan bertepatan dengan Hari Kasih Sayang itu.

“Kalau saya cukup menikmati berbagai promo hari valentine aja, kayak cokelat murah atau yang lainnya.”

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini