Sebelumnya, pada 7 Februari, Abrams mengatakan bahwa waktu untuk melakukan pembicaraan dengan Maduro telah lewat, dan satu-satunya yang dapat dibicarakan dan dinegosiasikan adalah mengenai pelengserannya.
"Seharusnya tidak mengejutkan bahwa pejabat Departemen Luar Negeri bertukar pendapat dengan berbagai lawan bicara asing, terutama saat kami terus mengambil semua langkah untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel Kedutaan kami," kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS menjawab pertanyaan media mengenai pertemuan tersebut.
BACA JUGA: Gedung Putih Mulai Habis Kesabaran Hadapi Presiden Venezuela
Sebagaimana diketahui, AS dan negara-negara sekutunya tidak mengakui Maduro sebagai presiden Venezuela yang sah dan mendukung pemimpin oposisi, Juan Guaido sebagai presiden interim di negara kaya minyak itu. Di sisi lain, Maduro masih mendapat dukungan dari beberapa negara, termasuk Rusia, China dan Turki.
Situasi ini membuat Venezuela jatuh ke dalam krisis politik yang dikhawatirkan oleh banyak pihak dapat berkembang menjadi perang sipil.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.