MASYARAKAT Betawi memiliki ciri khas tersendiri ketika akan melangsungkan pesta pernikahan. Budaya yang masih eksis hingga saat ini adalah adat palang pintu. Ritual itu dilakukan untuk menyambut mempelai pria di rumah pengantin wanita.
Penyambutan itu diawali dengan bunyi petasan renceng yang ledakannya amat memekakkan telinga. Apabila di dalam rombongan pengantin pria ada yang tidak menyadari prosesi itu, maka akan terkaget-kaget ketika mendengarnya.
Meski begitu, seramnya suara yang dihasilkan dari mercon itu sedikit diademkan dengan iringan lantunan shalawat sebagai tanda bahwa sang pengantin pria beserta rombongan keluarga besar sudah tiba di lokasi acara pernikahan.
Okezone merangkum dari berbagai sumber ihwal makna masyarakat Betawi menggunakan petasan dalam tradisi palang pintu. Meski dinilai berbahaya, tapi benda itu memiliki fungsi yang amat penting ketika seseorang melaksanakan pesta pernikahan.
Budaya meledakkan petasan itu muncul sekira tahun 1940 atau 1950. Kala itu, jarak rumah penduduk dengan tetangganya terpisah sangat jauh. Tak seperti saat ini, di mana posisi satu rumah dengan yang lainnya letaknya berdempetan.
Apabila ada warga yang hendak menggelar hajatan seperti menikahkan anak, khitanan, dan naik haji, pastinya akan mengundang tetangga yang rumahnya terpisah cukup jauh.