Pakar Sebut Kasus Ratna Akan Terus Bayangi Prabowo

Rachmat Fahzry, Jurnalis · Sabtu 16 Februari 2019 19:59 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 16 605 2018941 pakar-sebut-kasus-ratna-akan-terus-bayangi-prabowo-8x81PcobVV.jpg Prabowo Subianto joget saat debat perdana Pilpres 2019. Foto/ist

JAKARTA – Kasus bohong Ratna Sarumpaet akan terus membayangi Prabowo Subianto, menurut pakar psikologi, dan akan berdampak pada temperamen calon presiden 02 tersebut.

Psikolog Politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk menilai Prabowo masih punya karakteristik tempramental dan agresif.

“Hasil kajian tentang karakteristik Prabowo itu dia memang lebih tempramental. Nah, terbukti misalnya dalam kasus Ratna kan grasak-grusuk, itu fatal loh sebenarnya. Untungnya, polisi bertindak cepat,” kata Hamdi kepada Okezone merujuk kasus Ratna saat ditanya jelang debat kedua Pilpres 2019, Sabtu (16/2/2019).

Foto/Okezone

Hamdi berharap nanti ketika kasus Ratna naik ke tingkat pengadilan bisa terbongkar apakah ada konspirasi atau tidak.

“Kalau kasus ini naik ke pengadilan, bagus bagi kita bikin terang benderang. Ini apakah hanya bualan seorang Ratna yang entah kenapa itu persoalan pribadi dia lah, entah dia mengalami gangguan psikologis apa sehingga membual saja mengarang-mengarang cerita dia dipukuli,” jelas dia.

Foto/Okezone

Hamdi sangat menyayangkan seorang Prabowo yang kembali maju menjadi calon Presiden begitu mudah percaya kabar-kabar bohong.

Baca: Diminta Hapal Singkatan Jelang Debat Pilpres, Prabowo Tolak Saran BPN

Baca: Jokowi Siap Jawab Seluruh Pertanyaan Krusial di Debat Kedua

“Apa tidak dicek terlebih dahulu, gegabah itu kan bahaya nanti. Seorang yang akan memimpin republik ini mempunyai watak grasak-grusuk, gampang dibohongi oleh seorang nenek-nenek. Itu kan fatal itu. Jadi publik boleh mencatat apakah orang seperti itu layak jadi presiden,” katanya.

Foto/Okezone

Karena, kata Hamdi, dalam psikologi itu ada yang namanya penyakit hypocondriac yakni orang senang mengarang-ngarang cerita dia lagi sakit, disakiti dan kalau sakit sedikit itu dibesar-besarkan seperti dizalimi.

“Itu ada kelainan psikologis juga, orang membesar-besarkan rasa sakit itu hypocondriac. Maka, Ratna sedang salam mengidap itu,” katanya.

Di samping itu, Hamdi menilai apabila mau kritis maka pertanyaannya kasus Ratna apakah ada unsur konspirasi juga dengan kubu Prabowo itu harus dibongkar di pengadilan nanti.

“Misalnya untuk mendiskreditkan pemerintah, itu harus dibongkar di pengadilan. Jangan hanya sekarang Ratna doang dijadikan pesakitan, yang lain cuci tangan,” ujarnya.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini