Kota di Swedia Dikecam Setelah Tampilkan Gadis Berjilbab dalam Iklannya

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 25 Februari 2019 15:31 WIB
https: img.okezone.com content 2019 02 25 18 2022542 kota-di-swedia-dikecaman-setelah-tampilkan-gadis-berjilbab-dalam-iklannya-gEBqsvXxs7.jpg Foto: Mikael Svensson.

GAVLE – Iklan ucapan selamat datang sebuah kota kecil di Swedia yang menampilkan seorang wanita berhijab telah mendapat reaksi keras dari publik dan politisi negara Skandinavia tersebut. Gelombang reaksi tersebut semakin besar setelah sebuah penyelidikan mengungkap hubungan antara wanita dalam iklan tersebut dengan seorang imam yang dianggap mendukung kelompok militan ISIS.

Media lokal Swedia Nyheter Idag melaporkan bahwa Kota Gavle telah memasang foto seorang wanita Muslim yang mengenakan hijab di iklan selamat datang digitalnya. Namun, iklan yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Gavle merupakan sebuah kota penuh keberagaman itu justru mendapat reaksi negatif dari beberapa pihak.

Manajer Komunikasi Gavle, Johan Adolfsson menjelaskan bahwa wanita dalam iklan itu adalah "salah satu dari banyak wanita Muslim Gävle" dan menekankan bahwa penempatannya di iklan tersebut adalah untuk menegaskan keberagaman dari kota kecil dengan 120 bahasa itu.

Namun, dorongan terkait keragaman ini justru memunculkan reaksi dari para politisi dan warga Swedia, termasuk warga imigran yang sebenarnya diwakilkan oleh iklan tersebut.

Roger Hedlund, salah seorang anggota parlemen Swedia mengkritik iklan tersebut karena dianggap menampilkan hijab yang menurutnya melambangkan opresi bagi kaum wanita. Sementara seorang anggota parlemen lainnya, Ghazal Saberian juga mengecam karena melihat iklan tersebut sebagai bentuk obsesi terhadap politik Islam.

“Orang harus berpikir apa ini sebuah sinyal. Beberapa memang menggunakan pakaian ini, jilbab, secara sukarela. Tapi tidak semua orang. Ini pakaian yang bagi jutaan wanita di seluruh dunia mewakili kurangnya kebebasan," kata Hedlund sebagaimana dilansir Sputnik, Senin (25/2/2019).

Adolfsson menepis semua respons negatif itu dengan mengatakan bahwa wanita dalam iklan tersebut memilih secara sukarela untuk mengenakan jilbabnya sebagai bagian dari identifikasi dirinya. Dia juga menekankan bahwa dia dipilih sebagai "duta besar Gavle".

Namun, media lokal Swedia Samhällsnytt melaporkan bahwa Suzan Hindi yang menjadi "gadis iklan baru" Gävle, ternyata memiliki koneksi dengan masjid Gävle (juga dikenal sebagai masjid al-Rashideen) yang sebelumnya dilaporkan sebagai basis Islam radikal. Menurut Samhällsnytt, pemimpin spiritual Suzan, imam Abu Raad, pernah memuji kelompok Daesh, yang merupakan nama lain dari ISIS, dan bahkan mencoba mengumpulkan uang untuk para teroris.

Menyusul laporan tersebut, banyak warga Swedia kemudian menyampaikan protes di media sosial dan menuntut Gavle untuk meminta maaf serta menarik iklannya.

Gavle adalah kota terbesar di Kabupaten Gavleborg di utara Stockholm dengan penduduk serjumlah sekira 75.000 jiwa.

Swedia saat ini tidak memiliki larangan komprehensif tentang pakaian Islami, seperti jilbab, burqa atau niqab. Namun, pemilik usaha perorangan dapat melarang karyawan mengenakan simbol agama, filsafat, dan politik selama jam kerja. Sebaliknya, polisi dan petugas pemadam kebakaran diizinkan mengenakan jilbab saat bekerja.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini