“Sistem logistik jagung yang terintegrasi mencakup proses perencanaan produksi, implementasi produksi serta pengendalian jagung secara efektif dan efisien termasuk jasa transportasi, penyimpanan dan sistem informasi pendukung (data produksi, konsumsi, harga) dari daerah asal produksi menuju titik konsumsi”, terang I Ketut.
Terkait membangun manajemen logistik jagung yang terintegrasi, I Ketut memandang peran Perum BULOG sangat strategis dan berharap Perum BULOG dapat menjembatani kepentingan petani sebagai produsen serta kepentingan peternak dan industri pakan sebagai pihak konsumen.
Berdasarkan laporan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Dede Supriatna menyebutkan panen dilaksanakan di empat desa dengan total luas 1.000 ha yaitu Desa Bulakan seluas 600 ha (Lembaga Masyarakat Desa Hutan/LMDH Giri Mukti dan Kelompok Tani Mekar Jaya), Desa Gunungkendeng seluas 200 ha (LMDH Wanatani Gerlap), Desa Tanjungsari Indah seluas 65 Ha (LMDH Wana Mekar Sari), dan Desa Kramatjaya seluas 135 Ha (LMDH Mukti Jaya).
Sementara itu Bupati Lebak, Iti Octavia menyampaikan pengembangan jagung berbasis korporasi merupakan upaya meningkatkan produksi pangan dan meningkatkan pendapatan ekonomi yang pada akhirnya bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Kebijakan ini menurutnya sangat sinergi dengan program Lebak Sejahtera yang sedang digulirkan.
"Kami menyambut positif pengembangan jagung berbasis korporasi dari bantuan Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian Provinsi Banten", ungkapnya. Kegiatan ini juga melibatkan para pihak terkait, seperti BPPT, Otoritas Jasa Keuangan, Perbankan, pelaku usaha, dan TNI.
"Ini merupakan komitmen kita bersama untuk meningkatkan produksi jagung di Kabupaten Lebak", tutupnya.
(Abu Sahma Pane)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.