nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sempat Bermain Setelah Digigit Ular, Nyawa Ismi Tidak Tertolong

Agregasi Balipost.com, Jurnalis · Rabu 27 Februari 2019 19:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 27 244 2023679 sempat-bermain-setelah-digigit-ular-nyawa-ismi-tidak-tertolong-LEMyqHEO6O.jpg Ilustrasi (Foto: Telegraph)

GIANYAR - Seorang bocah bernama Ismi Nursaubah (12) meninggal dunia karena digigit ular saat tidur di salah satu kamar pada rumah makan yang dikelola orang tuanya, Kelurahan Sampalangan, Kecamatan Gianyar, Rabu (27/2/2019).

Ismi sebenarnya sempat mendapat perawatan, namun nyawanya tidak tertolong. Pihak keluarga pun telah mengikhlaskan kejadian ini, dan membawa jenazah ke rumahnya di Jembrana untuk kemudian dimakamkan.

Saat didatangi ke TKP, hanya ada paman korban, Ibrahim. Menurut Ibrahim keponakanya itu digigit ular pada Rabu dini hari sekitar pukul 03.00 Wita. Saat itu, korban dan orangtuanya serta adiknya sedang tidur di kamar yang berada di pojok belakang warung.

”Pagi sekitar jam 3 pagi, keponakan saya bangun karena digigit ular. Dia tidak nangis sama sekali, bahkan sempat bermain,” katanya.

TKP Ismi digigit ular berbisa (Foto: Balipost)

Ular beracun tersebut diduga datang dari semak-semak yang berada di belakang kamar korban. Mengetahui di kawasan itu terdapat ular, Ibrahim pun mencari ular tersebut.

“Setelah ditangkap, saya tanya ke ibu keponakan saya, ular ini mau diapakan. Katanya, jangan dibunuh, biarin saja hidup, karena waktu itu keponakan saya tidak ada terlihat sakit,” katanya.

Ibrahim mengatakan, ular yang diduga menyebabkan tewasnya bocah kelas VI SD Negeri 7 Gianyar ini berukuran sebesar jari telunjuk, dengan panjang sekitar 50 centimeter, dan berwarna hitam. Dikatakan setelah ditangkap ular itu dimasukan ke botol, lalu dibuang ke Tukad Pakerisan.

Usai membuang ular itu pada Rabu pagi keponakanya menunjukan gejala sakit. Setelah itu, merekapun membawa korban ke rumah sakit swasta terdekat. Namun nahas, nyawa keponakannya itu tidak tertolong.

"Sempat diberi pertolongan oleh dokter, tapi keponakan saya tidak selamat,” katanya.

Menurut Ibrahim, korban telah dipulangkan ke kampung halaman ayahnya di Jembrana untuk dimakamkan sekitar pukul 09.00 Wita.

Sementara itu direktur RS Famili Husada dr. Made Koen Virawan menerangkan terkait laporan kronologis yang ia terima, bahwa pasien Ismi Nursaubah datang ke RS Famili Husada Rabu pagi sekitar pukul 05.30 wita. Dikatakannya, kala itu korban sudah dalam keadaan syok.

“Dikira anaknya biasa saja karena masih bisa lari-lari, setelah itu kondisinya menurun, lemas, kemudian baru diantar ke RS jam setengah enam pagi,” katanya.

Setiba di rumah sakit, kondisi korban semakin memburuk. Pihaknya pun langsung memberikan penanganan, namun tidak berhasil, hingga akhirnya meninggal. "Korban sudah kritis di sel darah merah, coba dari setengah 4 dibawah akesini kan langsung di kita tangani," katanya.

(aky)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini