Diserang Berbagai Isu, Pengamat Khawatir Ada Upaya Sistematis Mendelegitimasi Penyelenggara Pemilu

Fahreza Rizky, Jurnalis · Sabtu 02 Maret 2019 18:24 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 02 605 2024994 diserang-berbagai-isu-pengamat-khawatir-ada-upaya-sistematis-mendelegitimasi-penyelenggara-pemilu-1vuEq4GV3W.jpg Gedung KPU.

JAKARTA - Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menilai, ada upaya sistematis mendelegitimasi penyelenggara pemilu lewat berbagai isu, seperti audit forensik sistem informasi KPU, kotak suara disimpan di Markas Koramil, dan lain sebagainya.

Menurut Adi, membangun opini adanya kecurangan pemilu sangat tidak tepat. Sebaliknya, para kandidat seyogianya beradu gagasan, visi, misi dan program untuk membangun bangsa.

"Itu logika yang dibangun untuk mendelegitimasi posisi KPU sebagai penyelenggara pemilu. Menurut saya, ada upaya sistematis untuk mendelegitimasi KPU," kata Adi dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Sabtu (2/3/2019).

"Sebaiknya semua kubu lebih fokus pada penyampaian gagasan, visi, dan program," sambung dia.

Ilustrasi.

Adi berpendapat, di era keterbukaan informasi saat ini, seharusnya KPU menjadi lembaga yang dapat dipercaya publik. Karena itu ia menilai usulan mengaudit sistem IT KPU sangat berlebihan. Apalagi hasil akhir perolehan suara ditentukan dengan penghitungan manual.

(Baca juga: Ikut Demo, Amien Rais Bermunajat untuk KPU dan Bawaslu)

"Saya kira cukup berlebihan kalau ada upaya mengaudit IT KPU, sedangkan penghitungan suara di Indonesia masih secara manual," kata dia.

Terkait usulan kotak suara disimpan di Markas Koramil, Adi mempertanyakan aturan hukumnya. Menurut dia, mulai tahapan pemungutan suara hingga penghitungan suara akan terus dikawal oleh saksi dari masing-masing kandidat, pemantau independen dan lainnya.

Karenanya, Adi ingin semua pihak tidak terlalu berprasangka adanya kecurangan. Pasalnya itu sangat tidak baik bagi proses demokrasi yang ada. "Ini tidak bagus untuk demokrasi. Saya kira tidak ada juga indikasi KPU curang," jelasnya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini