SEMARANG - Aktivitas Gunung Merapi dilaporkan cukup tinggi dalam sepekan terakhir yakni kurun 1 - 7 Maret 2019. Secara visual, asap teramati berwarna putih dan abu-abu, dari tipis hingga tebal, dengan tekanan gas dominan lemah. Tinggi maksimum 1.000 meter teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Kaliurang pada 2 Maret 2019.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, mengatakan, berdasarkan foto dari sektor tenggara tidak menunjukkan adanya perubahan morfologi. Volume kubah lava berdasarkan pengukuran menggunakan foto udara dengan drone pada 5 Maret 2019 sebesar 470.000 m3 relatif sama dengan pekan - pekan sebelumnya.
"Hal ini dikarenakan ekstrusi lava langsung gugur ke alur Kali Gendol. Dalam satu pekan ini teramati 14 kali kejadian awan panas guguran pada 2, 3, dan 7 Maret 2019 dengan jarak luncur berkisar dari 500 hingga 1.900 meter. Dengan demikian sejak 29 Januari 2019 telah terjadi 28 kali awan panas dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter," kata Hanik, Minggu (10/3/2019).

Sementara untuk aktivitas kegempaan, dalam pekan ini terpantau 14 kali gempa Awan Panas (AP), 35 kali gempa Hembusan (DG), 3 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 23 kali gempa Fase Banyak (MP), 327 kali gempa Guguran (RF), 21 kali gempa Low Frekuensi (LF), dan 12 kali gempa Tektonik (TT). Jumlah gempa VTB pada pekan ini menurun dibandingkan pekan lalu. Sedangkan jumlah gempa AP, MP, RF, LF, DG meningkat.
"Pada pekan ini terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi dengan intensitas curah hujan tertinggi sebesar 26 mm/jam selama 15 menit terukur di Pos Babadan pada 24 Februari 2019. Tidak dilaporkan terjadi lahar maupun penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi," tukas dia.