“Sebaliknya di sisi yang lain, partai-partai yang hanya ikut mengusung, memang harus berkompetisi lebih sengit karena jumlah mereka banyak. Sementara jumlah pemilih yang diperebutkan lebih sedikit dibandingkan kelompok yang pertama tadi. Tetapi tentu saja tetap dampaknya bisa dirasakan kalau mereka bekerja dengan efektif,” ucap dia.
Survei itu juga membandingkan elektabilitas partai-partai terutama yang digabungkan ke dalam kelompok pengusung dengan elektabilitas capresnya. Hasilnya terdapat selisih antara jumlah persentase partai pengusung dengan elektabilitas capres.
Agregat elektabilias Jokowi-Amin di 73 Dapil adalah 40,4 persen. Gabungan elektabilitas partai-partai pengusung Kandidat No 01 ini adalah 67,4 persen. Artinya, ada kesenjangan sebesar 27 persen di antara kedua angka elektabilitas itu.
Kesenjangan juga terjadi antara agregat elektabilitas Prabowo-Sandi dengan gabungan elektabilitas partai-partai pengusungnya. Elektabilitas Prabowo-Sandi adalah 25,8 persen. Sementara itu gabungan elektabilitas partai-partai pengusungnya adalah 32 persen. Maknanya, ada kesenjangan sebesar 6,2 persen.
“Yang menarik adalah ternyata ada defisit pada kelompok 01, ada defisit 27 persen. Jadi dua persen 27 persen pemilih partai koalisi itu yang ternyata sampai dengan saat terakhir survei belum memilih 01. Pada kelompok 02 ada defisit 6,2 persen. Jadi ada 6,2 persen pemilih dari partai-partai gabungan koalisi pendukung 02 yang ternyata sampai dengan sampai survei terakhir belum memilih 02,” cetusnya.