nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mereka yang Menaruh Harapan di Pelabuhan Sunda Kelapa

Muhamad Rizky, Jurnalis · Sabtu 16 Maret 2019 11:38 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 16 337 2030802 mereka-yang-menaruh-harapan-di-pelabuhan-sunda-kelapa-ti4ESRooOL.jpg Uding, pengojek sampan di Pelabuhan Sunda Kelapa. (Foto : Muhamad Rizky/Okezone)

TREK.. tek.. tek.. Suara itu datang dari mesin dompeng. Mesin untuk mengangkut barang dari kendaraan truk maupun tronton untuk kemudian dipindahkan ke kapal pinisi. Mesin yang dikendalikan oleh seorang anak buah kapal (ABK) atau mereka menyebutnya tukang derek itu, secara perlahan menaikkan barang yang beratnya hingga mencapai ratusan ton.

Siang itu, sedikitnya ada 15 ABK yang sibuk bekerja menaikkan barang pecah belah maupun kelontongan tersebut ke atas kapal. Mereka bekerja dengan berbagi tugas. Ada yang bertugas menurunkan barang dari atas truk, ada pula yang merapikan di bawah truk untuk diikat di atas tali pengangkut mesin dompeng, serta sebagian yang lain bertugas merapikan barang di atas kapal.

Mereka bahu-membahu melaksanakan tugasnya sejak pukul 07.30 WIB hingga 18.00 WIB. Itu pu n tergantung dengan jumlah barang yang hendak diangkut ke kapal, bisa mencapai 3 atau 5 hari. Pekerjaan itu terus dilakukan hingga barang-barang itu memenuhi kapal.

Infografis Pelabuhan Bersejarah

Setiap 1 ton barang yang berhasil dinaikkan, para pekerja itu diupahi Rp8.000. Dalam sehari, mereka bisa menaikkan barang hingga seratus ton. "Tidak tentu karena tergantung barang sehari bisa 100 ton, 60 ton kalau ini hampir 200 ton," ucap salah seorang ABK yang tengah menaikkan barang kepada Okezone saat ditemui di lokasi belum lama ini.

Menurutnya, hanya di Pelabuhan Sunda Kelapa yang membayar murah para ABK atau mereka menyebut dirinya sebagai kuli angkut. Sebab di tempat lain bisa mencapai Rp15.000 per ton. "Di sini doang yang bayarannya paling murah se-ton Rp8.000. Kalau di tempat lain sudah Rp15.000. Udah gitu barangnya macam-macam ada pecah belah juga," katanya mengeluh.

Seakan tak berubah sejak zaman pendudukan kolonial Belanda, Pelabuhan Sunda Kelapa memang kerap digunakan untuk mengirim bahan logistik dari berbagai belahan dunia. Banyak negara dari Inggris, India, Belanda, dan Portugal melakukan transaksi barter hasil rempah-rempah yang terkenal kala itu di Indonesia untuk ditukar dengan barang dagangan lainnya.

Bedanya, kini Pelabuhan Sunda Kelapa sudah tidak sesibuk pada masanya dan hanya melakukan transaksi di pulau-pulau terpencil di Indonesia untuk memenuhi logistik tertentu. Pelabuhan Sunda Kelapa kini juga menjadi magnet bagi para pengunjung tak hanya dari Indonesia melainkan juga luar negeri.

Ojek sampan di Pelabuhan Sunda Kelapa

Pesona Kapal Pinisi yang erat akan nilai sejarah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung untuk sekadar selfie atau swafoto bahkan tak jarang di antara mereka juga banyak melakukan foto pra wedding di lokasi tersebut. Salah satu yang juga tak boleh ketinggalan apabila berkunjung ke lokasi ini adalah ojek sampan.

Setiap pengunjung yang hendak naik ojek sampan itu harus merogoh kocek Rp50.000 per orang. Namun, untuk menaiki ini sangat disarankan agar dilakukan pada waktu sore hari, sebab hal itu akan menambah kesan menarik di sisi lain kondisi matahari yang tidak terlalu terik akan membuat perjalanan sangat menyenangkan.

Uding, pengojek sampan di Sunda Kelapa (foto : Muhammad Rizky)

Salah seorang ojek sampan, Uding (54) asal Sulawesi Selatan mengatakan, sudah puluhan tahun menjadi pengemudi sampan. Sebelumnya, ia sempat bekerja sebagai ABK kapal. Namun, usia yang semakin menua ditambah bayaran yang kurang mencukupi, membuat Uding beralih menjadi tukang ojek sampan.

Setiap hari tidak tentu berapa orang yang bisa naik ke sampannya itu. Namun menurutnya, paling banyak pengunjung pada hari libur atau Sabtu, Minggu. "Untungnya ini sudah sampan (milik) sendiri, bukan nyewa lagi. Jadi tidak ada pikiran untuk bayar sewa, paling beli bahan bakar," tuturnya kepada Okezone.

Uding, pengojek sampan di Sunda Kelapa (foto : Muhammad Rizky)

Pemandangan dari atas sampan mengelilingi Pelabuhan Sunda Kelapa sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kita bisa menyaksikan langsung bagaimana berjajarnya kapal pinisi dari atas sampan yang tidak banyak dilihat orang. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan menaiki sampan tersebut.

Sayangnya, kondisi air yang banyak sampah dan air laut yang kotor mengurangi keindahan Pelabuhan Sunda Kelapa. Sesekali baling-baling sampan kerap tersangkut sampah sehingga membuat Uding berkali-kali membersihkan sampah. Terlepas dari itu, pengalaman yang dialaminya bisa terbayar dengan penghasilan yang diperoleh, meski tak seberapa.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini