Sisitem Sosial Penduduk Ampenan
Kemampuan masyarakat etnis yang tinggal di Kota Ampenan baik di masa sebelum pengaruh Hindu/Budha, Islam maupun masa Kolonialisme Belanda dan Jepang hingga sekarang telah membentuk sistem sosial budaya secara turun temurun dan terus diwariskan kepada anak cucunya untuk menjadi masyarakat pendatang yang paham adat dan tradisi sistem sosial kemasyarakatan.
Pelabuhan Ampenan, Lombok (foto: Instagram/@el_siregar2018)
Norma atau nilai-nilai budaya yang diwariskan tetap menjadi kenangan yang bersejarah bagi mereka walaupun Kota Ampenan tidak sejaya dulu. Cerminan kearifan nilai sosial budaya menjadi contoh sehingga mampu menjadi bagian dari etnis masyarakat asli yang mampu meredakan setiap konflik yang akan dapat mengganggu stabilitas kehidupan kemasyarakatan di Kota Mataram sampai sekarang.
Bagi masyarakat etnis Ampenan kehidupan sosial keagamaan saling tetap menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing walaupun masyarakat Ampenan penduduknya mayoritas Islam. Nuansa hari-hari besar agama masing-masing etnis, seperti hari besar Islam, Hindu, Kristen, Budha turut menjaga azas dan keragaman mereka.
Ketika terjadi konflik SARA atau sejenisnya diselesaikan oleh tokoh adat dengan musyawarah dan mufakat di tempat yang telah disepakati. Inisiatif menempuh jalan damai untuk menyelesaikan permasalahan muncul dari etnis lain yang tidak terlibat dalam sengketa. Konsep ini merupakan bentuk keperdulian dan perhatian dari semua etnis yang tinggal di kota Ampenan dalam menciptakan kondisi sosial yang aman dan damai.