Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Melirik Ampenan di Lombok, Kota Pelabuhan Zaman Lampau

Adi Rianghepat , Jurnalis-Sabtu, 16 Maret 2019 |12:02 WIB
Melirik Ampenan di Lombok, Kota Pelabuhan Zaman Lampau
Pantai Ampenan Dekat Pelabuhan Bersejarah di Lombok (foto: Instagram/@lombokandgilis)
A
A
A

KUPANG - Ampenan, nama sebuah kawasan di pesisir Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Ampenan awalnya adalah sebuah pedukuhan nelayan kecil.

Pemukiman orang Sasak pertama disini adalah Otak Desa atau pusat desa dan kebon Roweq. Pada awal abad ke-17 oleh Kerajaan Selaparang dibangunlah sebuah pangkalan untuk keperluan militer di wilayah barat.

 

Hal ini dilakukan Kerajaan Selaparang untuk merespon kondisi saat itu karena pada tahun 1616 M kerajaan Gelgel (Bali) menyerang Kerajaan Selaparang. Setelah persiapan selama 6 tahun dan merasa cukup siap dari pangkalan ini Kerajaan Selaparang menyerang balik Gelgel pada tahun 1624 M.

Peperangan ini berakhir dengan perdamaian. Seusai perang sebagian laskar Selaparang memilih tinggal di wilayah ini sekaligus menjaga wilayahnya. Setelah itu Ampenan mulai berkembang menjadi pelabuhan dagang.

Perkembangan Ampenan menarik orang-orang dan para pedagang dari Nusantara dan mancanegara untuk datang. Seperti penduduk dari Jawa, Banjar, Melayu, Bugis, Arab bahkan orang-orang Eropa. Sebagian dari mereka kemudian menetap dan membangun pemukiman dan memberikan nama sesuai dengan asal-usul mereka seperti kampung Arab, kampung Bugis, kampung Banjar, kampung Melayu dan lainnya.

Dalam perkembangan selanjutnya Ampenan berkembang sebagai kota kosmopolitan yang ramai hingga 1979 berdasarkan SK MENHUB RI KM 77/LL305/PHB-77 tanggal 13 Oktober 1977 dan KM 13/LL305/PHB-79 tanggal 11 Januari 1979. Ketika Pemerintah memutuskan untuk memindahkan pelabuhan ke Lembar.

Pelabuhan Ampenan, Lombok (foto: Instagram/@tengakarta)	Kondisi Kota Tua Pelabuhan Ampenan, Lombok (foto: Instagram/@tengakarta) 

Ampenan Abad 19 

Berperan penting pada abad ke-19, Ampenan dikembangkan oleh Pemerintah Kolonial pada tahun 1924 dan selanjutnya menjadi lebih besar, meskipun sempat dihentikan pengoperasiannya sepanjang masa pendudukan Jepang. Ampenan tumbuh dan ditumbuhkan di sepanjang jalan utama yang menghubungkan pelabuhan dengan Mataram, terus ke Cakranegara yang merupakan sumbu timur-barat.

Akhir tahun 1945 Jepang meninggalkan Kota Ampenan, sejak itu kota Ampenan kembali berfungsi dan peranan pelabuhan mulai berangsur-angsur ramai kembali. Kegiatan perdagangan mulai aktif.

Para pedagang melakukan fungsinya termasuk para buruh dan tenaga para kerja lainnya. Kapal-kapal dagang kembali beraktivitas setelah sekian lama telah tercekam oleh rasa ketakutan dan kekerasaan dari pemerintahan Jepang.

Kegiatan transportasi melalui darat kedaerah Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Pulau Sumbawa aktif kembali. Pola perbaikan pemerintahan mulai tertata kembali seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Setelah Kemerdekaan dicapai, status pemerintahan yang dulu warisan Belanda dikembalikan lagi ke Mataram, sedangkan Kota Ampenan tetap menjadi kota perdagangan.

Namun saat pelabuhan Ampenan dipindah ke Pelabuhan Lembar arus transportasi darat menjadi lebih cepat. Akibatnya Kota Pelabuhan Ampenan semakin sepi dan kegiatan perdagangan menurun.

Ditambah lagi di Cakranegara telah menjadi pusat perdagangan, menyebabkan konsumen lebih banyak membeli kebutuhannya di di wilayah tersebut.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement