nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menilik Sisa Kejayaan Mataram di Pelabuhan Semarang

Taufik Budi, Jurnalis · Sabtu 16 Maret 2019 15:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 16 512 2030832 menilik-sisa-kejayaan-mataram-di-pelabuhan-semarang-hSlmFiC61D.JPG

SEMARANG - Kota Semarang tak lepas dari hiruk pikuk pusat pemerintahan Ibu Kota Jawa Tengah sekaligus cepatnya laju pertumbuhan bisnis. Tak hanya dengan bangunan megah Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, tetapi juga memiliki pelabuhan besar di pesisir utara Pulau Jawa.

Bahkan, pelabuhan ini dikenal sejak zaman Kerajaan Mataram. Pelabuhan Semarang menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal dagang yang datang dari berbagai daerah. Waktu itu, Semarang merupakan kota kecil yang dibangun menghadap ke Laut Jawa sekitar Benteng Belanda.

“Saat itu, Kali Semarang menjadi satu-satunya urat nadi perdagangan yang mengangkut barang-barang dengan perahu kecil dari kota ke kapal-kapal besar yang berlabuh jauh dilepas pantai dan sebaliknya,” ujar Humas Pelindo III Pelabuhan Tanjung Emas, Diah Ayu Puspitasari, Jumat (15/3/2019).

Sementara menurut catatan Wikipedia, pelabuhan ini berkembang sejak abad ke-16. Sebelumnya Pelabuhan Semarang berada di bukit Simongan, yang sekarang dikenal dengan sebutan Gedong Batu di mana terdapat Kelenteng Sam Poo Kong.

Secara geologis, lokasi Pelabuhan Semarang lama kurang menguntungkan. Jumlah pasir yang amat banyak dan endapan lumpur yang terus-menerus, menyebabkan sungai yang menghubungkan kota dengan pelabuhan tidak dapat dilayari.

Bahkan pada muara sungai terbentuk dataran pasir yang sangat menghambat pelayaran dari dan ke kota. Untuk mengatasi kondisi geologi yang tidak menguntungkan bagi kapal-kapal besar itu pada tahun 1868, beberapa perusahaan dagang melakukan pengerukan lumpur yang pertama kali.

Selanjutnya dibuat juga kanal pelabuhan baru, bernama Nieuwe Havenkanaal atau Kali Baroe, yang pembuatannya berlangsung pada 1872. Melalui kanal ini, perahu-perahu dapat berlayar sampai ke pusat kota untuk menurunkan dan memuat barang-barang.

Setelah pembangunan Kali Baru, banyak kapal dari luar negeri, baik kapal uap maupun kapal layar, berdatangan di pelabuhan Semarang. Selama 1910, tercatat 985 kapal uap dan 38 kapal layar yang berlabuh di Semarang. Mereka berasal dari berbagai negeri yaitu Inggris, Belanda, Hindia Belanda, Jerman, Denmark, Jepang, Austria, Swedia, Norwegia, dan Prancis.

Di area pelabuhan Tanjung Emas ini terdapat sebuah Mercusuar, namanya mercusuar Willem 3. Pada mercusuar itu tertulis angka 1874 yang menunjukkan bahwa Pelabuhan Semarang dibangun pada permulaan abad ke XIX.

Untuk memenuhi tuntutan perkembangan kota, maka dibuatlah perencanaan pelabuhan pada tahun 1886 untuk membangun Pelabuhan Dalam dan Pelabuhan Coaster. Pelabuhan Semarang dikembangkan untuk prasarana ekspor hasil bumi (terutama gula) oleh pemerintah colonial Belanda.

“Setelah pembangunan selesai, perdagangan di Pelabuhan Semarang meningkat pesat. Pada tahun 1925, pelabuhan ini pernah menduduki peringkat ketiga dalam hal kegiatan bongkar muat setelah Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Tanjung Perak,” tukas dia.

Seiring meningkatnya kegiatan operasional, maka setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada 1945, diperlukan penambahan fasilitas pelabuhan. Pada 1963 pembangunan Pelabuhan Coaster atau Pelabuhan Nusantara yang dapat menampung kapal-kapal yang berukuran + 2.000 Ton bobot mati (DWT) mulai diwujudkan.

“Namun, waktu itu kapal-kapal yang berukuran lebih besar, masih harus berlabuh dan melakukan aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Rede yang jaraknya + 3 mil dari pelabuhan dengan memakai tongkang,” tukas perempuan berwajah ayu itu.

Menurut data tahun 1970-1983, kenaikan arus barang rata-rata tiap tahun naik sebesar 10%. Mengingat keterbatasan fasilitas pelabuhan, maka pemerintah menetapkan untuk mengembangkan Pelabuhan Semarang.

Rencana pengembangan pelabuhan (Meter Plan) dibagi dalam tiga tahapan. Setelah proyek pembangunan tahap I selesai dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 23 November 1985, pelabuhan secara resmi diberi nama “Pelabuhan Tanjung Emas”.

Tahap II berupa pembangunan Dermaga Peti Kemas sepanjang 345 meter dengan fasilitas alat bongkar muat kontainer berupa empat unit Gantry Crane dan delapan unit RTG kemudian juga selesai dalam periode 1995-1997.

Proyek tahap II mengarahkan Tanjung Emas sebagai salah satu pelabuhan kontainer di Indonesia sebagai perwujudan partisipasi dalam millenium ketiga dan globalisasi. Tujuannya untuk mewujudkan multimoda transportasi yang terpadu telah dioperasikan Dry Port Solo-Jebres secara penuh.

“Saat ini, Pelabuhan Tanjung Emas merupakan cabang dari perusahaan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero). Menanggapi perkembangan bisnis global, Pelabuhan Tanjung Emas masuk dalam program pemerintah dalam Master Plan Percepatan Perluasan pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Agar nantinya, Pelabuhan Tanjung Emas semakin mantab dalam menyandang gelar Pelabuhan Kelas Internasional,” tandasnya.

Sementara itu, sejarawan Semarang Jongkie Tio, menyebut, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang tak lepas dari perjalanan panjang masa lalu. Pelabuhan ini merupakan perpindahan dari pelabuhan lama karena dianggap tak representatif lagi untuk menampung kapal-kapal besar.

“Pelabuhan yang lama itu yang ada mercusuarnya. Mercusuar itu hadiah Raja Willem 3. Di situ dulu tempat sandar kapal-kapal kayu. Karena terjadi pendangkalan terus-menerus maka dibikin Pelabuhan Tanjung Emas,” kata Jongkie.

Dia pun menyebut, kala itu, Pelabuhan Semarang merupakan pelabuhan yang paling besar pada era kerajaan Mataram. “Makanya Semarang itu dari dulu terkenal jadi melting pot (metafor untuk masyarakat heterogen yang semakin homogeny) kebudayaan, kuliner, segala macam, itu selalu ke Semarang,” terangnya.

“Intinya Pelabuhan Semarang itu dulu yang paling bagus, pelabuhan utama dari Kerajaan Mataram,” tambahnya.

Keberadaan Pelabuhan Tanjung Emas kini tak pernah lepas dari aktivitas ekonomi maupun transportasi andalan warga. Terdapat Terminal Samudra, Terminal Nusantara, Terminal Pelabuhan, Terminal Deli, serta Terminal Penumpang yang kapasitasnya mampu menampung 2.500 penumpang baik domestik maupun internasional.

Warga di sekitar pelabuhan banyak yang terserap menjadi pekerja baik sebagai buruh bongkar muat barang, hingga beragam posisi di pelabuhan. Sementara lainnya bekerja sebagai nelayan dengan memanfaatkan kekayaan laut untuk mencari nafkah.

“Kalau saya yang tinggal di sekitar pelabuhan kadang ya main ke pelabuhan ikut bekerja jika ada borongan. Tapi kalau enggak ada yang sebagai nelayan,” ujar Mulyono warga Semarang Utara.

Dia mengaku hampir setiap hari melaut bersama rekannya untuk mencari ikan. Berbekal perahu kayu dengan panjang enam meter dan lebar tiga meter, mampu mendapatkan ikan blanak hingga 50-100 kilogram setiap melaut.

“Lumayan hasilnya. Di sini paling banyak adalah ikan blanak. Biasanya nyari setelah pelabuhan itu jaraknya sekira lima kilometer. Berangkat pukul 12.00 WIB, lalu pulang Magrib. Kita pakai jaring saja tidak ada alat lain,” tukas dia.

Biasanya Mulyono bersama nelayan lain memilih menjual ikan hasil tangkapan kepada pengepul. Untuk ikan blanak, dihargai Rp15 ribu per kilogram. Harga ini lebih rendah daripada harga di pasar yang mencapai Rp17.500 – Rp20.000 per kilogram.

“Memang lebih murah jika ke pengepul, tapi kan bisa cepat jual dan kita langsung dapat uangnya. Kalau ke pasar lama, harus nunggu. Makanya enggak apa-apa dijual dengan harga yang lebih rendah tapi langsung cash,” lugasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini