Keberadaan Pelabuhan Tanjung Emas kini tak pernah lepas dari aktivitas ekonomi maupun transportasi andalan warga. Terdapat Terminal Samudra, Terminal Nusantara, Terminal Pelabuhan, Terminal Deli, serta Terminal Penumpang yang kapasitasnya mampu menampung 2.500 penumpang baik domestik maupun internasional.
Warga di sekitar pelabuhan banyak yang terserap menjadi pekerja baik sebagai buruh bongkar muat barang, hingga beragam posisi di pelabuhan. Sementara lainnya bekerja sebagai nelayan dengan memanfaatkan kekayaan laut untuk mencari nafkah.
“Kalau saya yang tinggal di sekitar pelabuhan kadang ya main ke pelabuhan ikut bekerja jika ada borongan. Tapi kalau enggak ada yang sebagai nelayan,” ujar Mulyono warga Semarang Utara.
Dia mengaku hampir setiap hari melaut bersama rekannya untuk mencari ikan. Berbekal perahu kayu dengan panjang enam meter dan lebar tiga meter, mampu mendapatkan ikan blanak hingga 50-100 kilogram setiap melaut.
“Lumayan hasilnya. Di sini paling banyak adalah ikan blanak. Biasanya nyari setelah pelabuhan itu jaraknya sekira lima kilometer. Berangkat pukul 12.00 WIB, lalu pulang Magrib. Kita pakai jaring saja tidak ada alat lain,” tukas dia.
Biasanya Mulyono bersama nelayan lain memilih menjual ikan hasil tangkapan kepada pengepul. Untuk ikan blanak, dihargai Rp15 ribu per kilogram. Harga ini lebih rendah daripada harga di pasar yang mencapai Rp17.500 – Rp20.000 per kilogram.
“Memang lebih murah jika ke pengepul, tapi kan bisa cepat jual dan kita langsung dapat uangnya. Kalau ke pasar lama, harus nunggu. Makanya enggak apa-apa dijual dengan harga yang lebih rendah tapi langsung cash,” lugasnya.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.