Air Kotor Menyebabkan Anak-Anak Lebih Banyak Meninggal Dibanding Kekerasan di Zona Perang

Rachmat Fahzry, Okezone · Sabtu 23 Maret 2019 12:59 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 23 18 2033955 air-kotor-menyebabkan-anak-anak-lebih-banyak-meninggal-dibanding-kekerasan-di-zona-perang-jTWFru1jQY.jpg Anak korban perang di Palestina membawa air. Foto/Reuters

NEW YORK – Anak-anak di bawah usia 15 tahun tiga kali beresiko meninggal karena penyakit yang dibawa air kotor dan sanitasi buruk daripada dari kekerasan di negara-negara yang sedang berperang.

Laporan Badan Internasional PBB tentang Dana Darurat untuk Anak-Anak atau UNICEF yang paling rentan adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun. Mereka 20 kali beresiko meninggal karena penyakit daripada kekerasan.

Secara khusus, anak-anak meninggal karena penyakit diare dan kolera. Konflik mebuat semakin berkurangnya air bersih.

Penelitian ini melihat konsekuensi kesehatan dari air dan sanitasi yang tidak aman untuk anak-anak di 16 negara yang mengalami konflik, termasuk Myanmar, Afghanistan dan Yaman.

“Dalam konflik ini menyediakan air dan sanitasi yang cepat, komprehensif dan aman adalah masalah hidup dan mati," kata laporan itu.

Foto/Reuters

UNICEF melaporkan ada 85.000 kasus kematian akibat diare karena air kotor, sanitasi buruk dan kebersihan pada anak-anak dari 2014 hingga 2016.

BacaPBB: Pada 2018, 1.106 Anak-Anak Meninggal Akibat Perang Suriah

BacaBantuan dari PBB Picu Keracunan Massal di Uganda

Sementara mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada rentang waktu yang sama, ada 31.000 kematian anak-anak akibat kekerasan.

"Ini tidak mengejutkan," kata Tomas Jensen, penasihat untuk pengobatan tropis di badan amal medis Medecins Sans Frontieres kepada Thomson Reuters Foundation.

"Mereka sering menjadi yang paling berisiko, terutama anak-anak muda yang sistem kekebalan tubuhnya belum bisa menangkal bakteri yang dapat menyebabkan penyakit diare," katanya.

Penyakit terkait diare adalah penyebab utama kematian kedua untuk semua anak di bawah 5 tahun, menipisnya cairan tubuh dan menyebabkan dehidrasi.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS menyebutkan anak-anak dan bayi rentan terhadap dehidrasi, yang kehilangan cairan lebih cepat daripada orang dewasa dan kurang mampu mengkomunikasikan kebutuhan mereka.

Foto/Reuters

Dalam konflik, perjalanan ke sumber air dapat membawa risiko ditembak atau dilecehkan secara seksual.

Air mungkin terkontaminasi, sumber-sumbernya dihancurkan atau penghuninya mungkin ditolak aksesnya.

Di Yaman, yang memiliki salah satu epidemi kolera terburuk dalam sejarah baru-baru ini, sepertiga kasus adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Laporan UNICEF mencatat beberapa pengecualian, mengatakan anak-anak di bawah 15 di Irak dan Suriah lebih mungkin meninggal karena kekerasan, seperti juga anak-anak di bawah usia 5 di Suriah dan Libya.

Metode perang di negara-negara itu, seperti pemboman udara di daerah perkotaan, ranjau darat dan persenjataan yang tidak meledak membuat anak-anak berisiko tinggi meninggal.

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini