Survei Index Research: Jokowi-Ma'ruf 58,2%, Prabowo-Sandi 33,7%

Fahreza Rizky, Jurnalis · Kamis 28 Maret 2019 15:40 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 28 605 2036183 survei-index-research-jokowi-ma-ruf-58-2-prabowo-sandi-33-7-JGEAWMVLkH.jpg (Dok. Okezone)

JAKARTA - Kampanye terbuka sudah dimulai, debat calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres) pun telah berlangsung selama tiga babak.

Lalu, bagaimana peta politik pertarungan kedua kandidat pada sisa waktu jelang pencoblosan?

Berdasar hasil survei yang dilakukan Indonesia Elections and Strategic (indEX) Research menunjukkan, elektabilitas pasangan calon (paslon) Jokowi-Ma’ruf mulai bergerak meninggalkan pesaingnya, Prabowo-Sandi.

Di mana pasangan nomor urut 01 itu elektabilitasnya mencapai 58,2 persen, setelah sebelumnya cenderung stagnan pada kisaran 54-56 persen. Sedangkan Prabowo-Sandi 33,7 persen, masih relatif stabil.

“Tiga bulan terakhir elektabilitas capres-cawapres terkunci, tetapi kini Jokowi-Ma’ruf berhasil keluar dari stagnasi,” ungkap Direktur Eksekutif indEX Research Vivin Sri Wahyuni dalam siaran pers di Jakarta, pada Kamis (28/3/2019).

Jika paslon nomor 01 mampu mempertahankan momentum, Vivin memprediksi akan keluar sebagai pemenang Pilpres 2019.

Vivin mengatakan, publik mulai melihat perbedaan visi-misi dan program di antara kedua paslon. Capres petahana tetap mengandalkan program-program yang sudah berjalan, seperti pembangunan infrastruktur. “Uji coba dan peresmian MRT misalnya, menjadi pembuktian Jokowi mampu merealisasikan infrastruktur yang tertunda selama puluhan tahun,” kata Vivin.

(Baca Juga: PDIP Sulbar Bakal All Out untuk Jokowi-Ma'ruf Amin)

Jokowi-Ma’ruf juga menawarkan janji-janji baru, seperti kartu prakerja. Selain didesain untuk mengatasi persoalan lapangan kerja, program ini digadang-gadang mampu menaikkan kualitas sumber daya manusia (SDM). “Selama 4,5 tahun Jokowi dikritik terlalu fokus pada infrastruktur, kemudian dijawab dengan program pembangunan SDM,” terang Vivin.

Sebaliknya, kubu penantang dengan nomor 02 masih mengulang-ulang wacana yang berbau nasionalis. Di mana Prabowo berulang kalo mengungkapkan isu kebocoran kekayaan negara dan tekad untuk tidak lagi membuka keran impor. “Sudah sejak laga pertama Prabowo melawan Jokowi pada 2014 silam, wacana kebocoran pun malah jadi anekdot di mata publik,” kata Vivin.

Prabowo-Sandi kemudian memperdalam janji-janjinya, seperti tekad untuk menurunkan harga bahan pokok dan tarif listrik dalam 100 hari pemerintahan. Atau mengusulkan kebijakan meliburkan sekolah sebulan penuh selama Ramadan. “Kandidat penantang ingin menunjukkan kelemahan petahana dalam mengelola sejumlah isu,” ujar Vivin.

(Baca Juga: Survei CSIS: Prabowo Hanya Unggul di Sumatera, Sisanya Dikuasai Jokowi)

Dengan sisi pemilih yang belum memutuskan tinggal satu digit sebesar 8,3 persen, kedua paslon hanya memiliki sedikit ruang untuk menaikkan elektabilitas. “Kedua paslon harus memaksimalkan amunisi yang tersisa pada putaran akhir musim kampanye, pada medium kampanye terbuka dan pemasangan iklan di media massa,” ujar Vivin.

Survei indEX Research dilakukan pada rentang waktu 11-20 Maret 2019, dengan jumlah responden 1200 orang mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Metode survei adalah multistage random sampling (acak bertingkat) dengan margin of error ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini