Survei di H-12 Pencoblosan: Jokowi-Ma'ruf 53,1% dan Prabowo-Sandi 32,8%

Fadel Prayoga, Jurnalis · Jum'at 05 April 2019 14:48 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 04 05 605 2039473 survei-di-h-12-pencoblosan-jokowi-ma-ruf-53-1-dan-prabowo-sandi-32-8-ZhfsP9A7uj.jpg ilustrasi

JAKARTA - Pencoblosan Pilpres 2019 tinggal 12 hari lagi, dalam empat bulan terakhir ini, selisih elektabilitas antara kedua paslon semakin menipis, seiring turunnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dan peningkatan elektabiltas Prabowo-Sandi.

Kendati demikian, Berdasar hasil survei lembaga Y-Publica, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf masih unggul jauh dengan perbedaan elektabilitas sebesar 20,3 persen.

Hasil survei tersebut menunjukkan, Jokowi-Ma’ruf memperoleh 53,1 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 32,8 persen. “Meskipun elektabilitas terus meningkat, sangat sulit bagi Prabowo-Sandi untuk mengalahkan Jokowi-Ma’ruf, bahkan jika berhasil meraup seluruh suara undecided voter sebanyak 14,1 persen,” kata Direktur Eksekutif Y-Publica Rudi Hartono, Jumat (5/4/2019).

Menurut Rudi, turunnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf berkorelasi dengan penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan. Kepuasan terhadap calon presiden (capres) petahana Jokowi terus mengalami penurunan.

“Masa kampanye yang panjang menjadi ajang bagi kubu oposisi untuk melancarkan kritik terhadap kelemahan petahana,” kata Rudi.

Figur Jokowi dan Prabowo, sambungnya, masih menjadi faktor utama yang mendongkrak elektabilitas dua partai politik (utama) pengusung paslon. Dengan elektabilitas 26,5 persen, PDI Peruangan diprediksi memenangkan pemilihan anggota legislatif (Pileg) 2019. Sementara Gerindra menyusul sebagai runner up dengan elektabilitas 14,3 persen.

(Baca Juga: Liliana Tanaja Tanoesoedibjo: Jika Cinta Negeri Kita, Jangan Golput)

PDI Perjuangan dan Gerindra bersama dengan Golkar, PKB, dan Demokrat menempati posisi lima besar parpol yang diprediksi lolos ambang batas parlemen. “Yang menarik, parpol-parpol nasionalis mengalami pelemahan elektabilitas dalam 1-3 bulan terakhir, hanya PKB yang cenderung naik,” ujar Rudi.

Sementara elektabilitas Golkar mencapai 8,6 persen, PKB 7,8 persen, dan Demokrat 5,2 persen. Sebaliknya, parpol-parpol papan tengah cenderung meningkat elektabilitasnya, kecuali PPP dan Perindo. Nasdem memimpin dengan elektabilitas 3,9 persen, diikuti PKS 3,8 persen, PSI 3,6 persen, dan PAN 3,3 persen.

“PPP (2,8 persen) tampaknya terpengaruh penangkapan ketua umum Romahurmuzy, sedangkan Perindo (1,8 persen) masih berpeluang lolos threshold,” tuturnya.

Pada papan bawah adalah parpol-parpol yang diprediksi tidak lolos ambang batas. Hanura mengalami penurunan elektabilitas paling tajam, hingga tersisa 0,9 persen. Lainnya adalah PBB (0,8 persen), Berkarya (0,6 persen), PKPI (0,5 persen), dan Garuda (0,4 persen). “Masih ada sebanyak 15,1 persen menyatakan belum memutuskan atau tidak menjawab,” pungkas Rudi.

Y-Publica melakukan survei nasional berbasis dapil dalam periode akhir Januari hingga bulan Maret 2019. Temuan survei merupakan agregat dari 54 dapil dengan jumlah keseluruhan responden mencapai 43.200 orang. Metode survei adalah multistage random sampling (acak bertingkat) di setiap dapil dengan margin of error ±2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini