nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Apakah Kita Sedang Menuju pada Kehancuran Peradaban?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Jum'at 12 April 2019 08:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 12 18 2042365 apakah-kita-sedang-menuju-pada-kehancuran-peradaban-azcG6o6c2l.jpg Kehancuran Romawi Ilustrasi (BBC)

RUNTUHNYA peradaban kita tidak bisa dihindari. Sejarah menunjukkan kemungkinannya, tetapi kita punya keuntungan karena kita bisa belajar dari puing-puing masyarakat masa lalu.

Peradaban besar tidak dibunuh. Mereka mencabut nyawanya sendiri.

Demikian kesimpulan sejarawan Arnold Toynbee dalam magnum opusnya, 12 volume "A Study of History". Buku itu mengeksplorasi jatuh bangunnya 28 peradaban yang berbeda.

Dalam beberapa hal, dia benar: peradaban kerap kali bersalah dalam kemundurannya sendiri. Namun, penghancuran peradaban biasanya didorong faktor lain.

Kekaisaran Romawi, misalnya, adalah korban dari aneka penyakit peradaban, seperti ekspansi berlebihan, perubahan iklim, degradasi lingkungan dan kepemimpinan yang buruk. Tapi Kekaisaran Romawi baru jatuh ketika Roma diserang oleh Visigoth pada 410 dan Vandal pada 455.

 Baca juga: Kisah Ilmuwan Muslim yang Temukan Teori Evolusi 1.000 Tahun Sebelum Darwin

Keruntuhan terjadi dengan cepat, dan kebesaran tidak mendatangkan kekebalan. Wilayah Kekaisaran Romawi mencakup 4,4 juta km persegi pada tahun 390. Lima tahun kemudian merosot menjadi 2 juta km persegi. Pada 476, daerah kekuasaan kekaisaran adalah: nol.

Masa lalu kita yang panjang ditandai dengan kegagalan yang berulang. Sebagai bagian dari penelitian saya di Pusat Studi Risiko Eksistensial di Universitas Cambridge, saya berusaha mencari tahu mengapa peradaban runtuh. Saya melakukannya dengan otopsi historis.

Apa yang bisa dikatakan tentang kita jika dilihat dari naik turunnya peradaban bersejarah? Kekuatan apa yang memicu atau menunda keruntuhan? Dan apakah kita melihat pola yang sama saat ini?

Cara pertama untuk melihat peradaban masa lalu adalah membandingkan umurnya yang panjang. Ini sulit, karena tidak ada definisi yang sama tentang peradaban, atau landasan data lengkap tentang kelahiran dan kematiannya.

 https://ichef.bbci.co.uk/news/624/cpsprodpb/9FA5/production/_106396804_5i856sdu.jpg

Pada grafik di bawah, saya membandingkan umur berbagai peradaban, yang saya definisikan sebagai masyarakat pertanian, punya banyak kota, dengan dominasi militer di wilayah geografisnya, dan struktur politik yang berkelanjutan.

 Baca juga: Kisah Revolusi Matematika di India, Sejarah Terciptanya Angka Nol

Dengan definisi ini, semua kekaisaran adalah peradaban, tetapi tidak semua peradaban adalah kekaisaran. Data diambil dari dua studi tentang pertumbuhan dan kehancuran kerajaan (untuk 3000-600 SM dan 600 SM-600), dan survei informal peradaban kuno (yang telah saya sesuaikan).

Runtuhnya peradaban dapat didefinisikan sebagai hilangnya populasi, identitas, dan kompleksitas sosial-ekonomi, secara cepat dan permanen. Layanan publik hancur, dan kekacauan terjadi ketika pemerintah kehilangan kendali atas monopoli kekerasan.

Pada hakekatnya, hampir semua peradaban di masa lalu telah menghadapi nasib ini. Beberapa pulih atau berubah, seperti Cina dan Mesir. Keruntuhan lainnya permanen, seperti di Pulau Paskah.

Kadang-kadang kota-kota di pusat keruntuhan dihidupkan kembali, seperti, Roma. Dalam kasus lain, misalnya reruntuhan Maya, ditinggalkan sebagai kuburan, bagi wisatawan masa depan.

Apa artinya semua ini untuk masa depan peradaban modern global? Apakah pelajaran dari kerajaan agraris bisa diterapkan pada periode pasca-kapitalisme industri abad ke-18? Menurut saya, bisa.

Masyarakat di masa lalu dan sekarang hanyalah sistem rumit yang terdiri dari manusia dan teknologi. Teori "kecelakaan normal" menjelaskan bahwa sistem teknologi yang rumit bisa secara reguler membuka jalan menuju kegagalan. Jadi keruntuhan mungkin merupakan fenomena normal bagi peradaban, terlepas dari ukuran dan tahapannya.

 Baca juga: Ketika Penganut Kristen Melarang Perayaan Natal

Sekarang kita mungkin lebih maju secara teknologi. Tapi itu bukan alasan untuk percaya bahwa kita kebal dari ancaman yang melemahkan leluhur kita. Kemampuan teknologi kita yang baru ini bahkan membawa tantangan baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Dan meskipun skala kita sekarang bersifat global, keruntuhan bisa terjadi pada kekaisaran besar maupun kerajaan yang masih muda. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa ukuran yang lebih besar berarti makin terlindung dari bubarnya masyarakat. Sistem ekonomi global kita yang berkelindan, justru kemungkinan besar dapat membuat krisis meluas.

Jika nasib peradaban sebelumnya bisa menjadi penunjuk jalan menuju masa depan kita, apa yang tertulis di sana? Salah satu metode adalah memeriksa tren yang mendahului runtuhnya sejarah dan melihat bagaimana perkembangannya saat ini.

Meskipun tidak ada teori tunggal yang disepakati mengenai mengapa kehancuran terjadi, sejarawan, antropolog dan lain-lain telah mengusulkan berbagai penjelasan, antara lain:

PERUBAHAN IKLIM: Ketika stabilitas iklim berubah, hasilnya bisa menjadi bencana, yang menimbulkan kegagalan panen, kelaparan dan desertifikasi. Runtuhnya Anasazi, peradaban Tiwanaku, Akkadians, Maya, Kekaisaran Romawi, dan banyak lainnya, semuanya bertepatan dengan perubahan iklim yang tiba-tiba, biasanya kekeringan.

 Baca juga: Mengurai Sejarah Makassar dan Aborigin untuk Kembali Jalin Persahabatan

DEGRADASI LINGKUNGAN: Keruntuhan dapat terjadi ketika masyarakat melampaui daya dukung lingkungan mereka. Teori keruntuhan ekologis ini, yang telah menjadi subjek buku-buku terlaris, menunjukkan deforestasi berlebihan, polusi air, degradasi tanah, dan hilangnya keanekaragaman hayati sebagai penyebab yang memicunya.

KETIDAKSETARAAN DAN OLIGARKI: Kekayaan dan ketidaksetaraan politik dapat menjadi pendorong utama disintegrasi sosial, seperti halnya oligarki dan sentralisasi kekuasaan di antara para pemimpin. Ini tidak hanya menyebabkan tekanan sosial, tetapi juga menghambat kemampuan masyarakat untuk merespons masalah ekologi, sosial dan ekonomi.

Bidang cliodynamics memodelkan bagaimana faktor-faktor seperti kesetaraan dan demografi berkorelasi dengan kekerasan politik. Analisis statistik masyarakat sebelumnya menunjukkan bahwa ini terjadi dalam siklus. Ketika populasi meningkat, pasokan tenaga kerja melampaui permintaan, pekerja menjadi murah dan masyarakat menjadi sangat berat sebelah. Ketidaksetaraan ini merusak solidaritas kolektif, disusul turbulensi politik.

KOMPLEKSITAS: Ahli kehancuran dan sejarawan Joseph Tainter berpendapat bahwa masyarakat pada akhirnya akan runtuh di bawah beban akumulasi kompleksitas dan birokrasinya sendiri.

Masyarakat adalah pemecahan masalah kolektif yang tumbuh dalam kerumitan untuk mengatasi masalah-masalah baru. Namun, keuntungan dari kompleksitas ini akhirnya mencapai titik kepuasan yang menurun. Setelah titik ini, mau tak mau keruntuhan akan terjadi.

Ukuran lain dari meningkatnya kompleksitas disebut Energy Return on Investment (EROI). Ini mengacu pada rasio antara jumlah energi yang dihasilkan oleh sumber daya relatif terhadap energi yang dibutuhkan untuk mendapatkannya. Seperti halnya kompleksitas, EROI tampaknya memiliki titik pengembalian yang menurun.

Dalam bukunya The Upside of Down, ilmuwan politik Thomas Homer-Dixon mengamati bahwa degradasi lingkungan di seluruh Kekaisaran Romawi menyebabkan jatuhnya EROI dari sumber energi pokok mereka: tanaman gandum dan alfalfa. Kekaisaran jatuh bersama EROI mereka. Tainter juga menyalahkannya sebagai penyebab utama keruntuhan, termasuk untuk bangsa Maya.

FAKTOR EKSTERNAL: Dengan kata lain, "empat penunggang kuda", yaitu perang, bencana alam, kelaparan dan wabah. Kekaisaran Aztec, misalnya, diakhiri oleh penjajah Spanyol. Kebanyakan negara agraris awal lebih cepat berakhir karena wabah mematikan.

Konsentrasi manusia dan ternak di pemukiman yang dikelilingi benteng, dengan tingkat kebersihan yang buruk membuat wabah penyakit tidak dapat dihindari dan menjadi bencana besar. Terkadang beberapa bencana datang bersamaan, seperti ketika Spanyol memperkenalkan salmonella ke Amerika.

KETIDAKBERUNTUNGAN:
Analisis statistik tentang kekaisaran menunjukkan bahwa keruntuhan terjadi secara acak tanpa tergantung usia. Ahli biologi evolusi dan ilmuwan data Indre Zliobaite dan rekan-rekannya telah mengamati pola serupa dalam catatan evolusi spesies. Penjelasan umum dari keacakan ini adalah "Efek Ratu Merah": jika spesies terus-menerus berjuang untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang berubah dengan banyak pesaing, kepunahan adalah kemungkinan yang terus ada.

Terlepas dari banyaknya buku dan artikel, kami tidak memiliki penjelasan konklusif mengapa peradaban runtuh. Yang kami tahu adalah: faktor-faktor di atas semuanya dapat berkontribusi. Keruntuhan peradaban adalah fenomena titik kritis, ketika tekanan bertambah dan melebihi kapasitas masyarakat untuk bertahan.

Kita dapat memeriksa indikator bahaya ini untuk melihat apakah peluang kehancuran kita turun atau naik. Berikut adalah empat metrik yang mungkin, diukur selama beberapa dekade terakhir:

Suhu adalah ukuran yang jelas untuk perubahan iklim. PDB adalah proksi untuk kompleksitas dan jejak ekologis adalah indikator degradasi lingkungan. Masing-masing memiliki tren naik yang tajam.

Ketimpangan lebih sulit untuk dihitung. Pengukuran khas Indeks Gini menunjukkan bahwa ketimpangan telah sedikit menurun secara global (meskipun meningkat di dalam negara). Namun, Indeks Gini bisa menyesatkan karena hanya mengukur perubahan relatif dalam pendapatan. Dengan kata lain, jika kekayaan dua orang yang berpenghasilan $ 1 dan $ 100.000 sama-sama naik dua kali lipat, Gini tidak akan menunjukkan perubahan. Tetapi kesenjangan antara keduanya akan melonjak dari $ 99.999 menjadi $ 198.998.

Karena itu, saya juga menggambarkan pembagian pendapatan global 1% teratas. Pendapatan global yang dikuasai 1% telah meningkat secara global dari sekitar 16% pada 1980 menjadi lebih dari 20%.

Lebih penting lagi, ketidaksetaraan kekayaan makin memburuk. Pangsa kekayaan global 1% telah membengkak dari 25-30% pada 1980-an menjadi sekitar 40% pada 2016. Kenyataannya cenderung lebih besar, karena angka-angka ini tidak menghitung kekayaan dan pendapatan yang disimpan di surga bebas pajak luar negeri.

Studi menunjukkan bahwa EROI untuk bahan bakar fosil terus berkurang dari waktu ke waktu karena paling mudah dijangkau dan cadangan terkaya sudah habis. Sayangnya, sebagian besar alternatif terbarukan, seperti matahari, memiliki EROI yang jauh lebih rendah. Sebagian besar karena kepadatan energinya dan kelangkaan logam tanah dan pabrik yang diperlukan untuk memproduksinya.

Ukuran ketahanan

Kabar yang agak melegakan adalah bahwa runtuhnya metrik bukanlah gambaran keseluruhan. Ketahanan sosial mungkin dapat menunda atau mencegah kehancuran.

Sebagai contoh, "keragaman ekonomi" global, yaitu ukuran keanekaragaman dan kecanggihan ekspor negara, kini lebih besar daripada tahun 1960-an dan 1970-an, yang diukur dengan Economic Complexity Index (ECI).

Negara-negara, secara rata-rata, tak lagi bergantung pada jenis ekspor tunggal seperti dulu. Sebagai contoh, sebuah negara yang melakukan diversifikasi di luar mengekspor produk pertanian akan lebih mungkin menghadapi degradasi ekologis atau hilangnya mitra dagang.

ECI juga mengukur intensitas pengetahuan ekspor. Populasi yang lebih terampil mungkin memiliki kapasitas yang lebih besar untuk merespons krisis yang muncul.


Demikian pula inovasi —yang diukur dengan aplikasi paten per kapita — juga meningkat. Secara teori, sebuah peradaban bisa jadi kurang rentan terhadap kehancuran jika teknologi baru dapat mengurangi tekanan seperti perubahan iklim.

Tapi "kehancuran" pun dapat terjadi tanpa bencana hebat. Seperti yang ditulis Rachel Nuwer di BBC Future pada tahun 2017, "dalam beberapa kasus, peradaban menghilang begitu saja — menjadi bagian dari sejarah tanpa letusan tetapi keluhan".

Namun jika kita melihat semua indikator keruntuhan dan ketahanan ini secara keseluruhan, pesannya jelas bahwa kita tidak boleh berpuas diri. Ada beberapa alasan untuk bersikap optimis, berkat kemampuan kita untuk berinovasi dan melakukan diversifikasi, menjauhkan diri dari bencana.

Namun dunia semakin memburuk di daerah-daerah yang telah berkontribusi pada runtuhnya kebudayaan sebelumnya. Iklim sedang berubah, kesenjangan antara si kaya dan si miskin melebar, dunia menjadi semakin kompleks, dan tuntutan kita terhadap lingkungan melampaui kemampuan daya dukung planet.

Tangga tanpa tangga

Bukan itu saja. Yang mengkhawatirkan, dunia sekarang sangat saling berhubungan dan saling tergantung. Dulu, keruntuhan terbatas pada daerah. Hanya kemunduran sementara, dan orang seringkali dengan mudah kembali ke gaya hidup agraris atau berburu-meramu. Bagi banyak orang, kondisi itu bahkan disambut sebagai cara melawan negara awalnya. Selain itu, senjata yang tersedia selama konflik sosial belum sempurna: pedang, panah, dan kadang-kadang senjata.

Saat ini, keruntuhan sosial menjadi prospek yang lebih berbahaya. Senjata yang dimiliki suatu negara, dan kadang-kadang bahkan kelompok, sekarang berkisar dari agen biologis hingga senjata nuklir.

Instrumen kekerasan baru, seperti senjata otonom yang mematikan, mungkin muncul dalam waktu dekat. Orang semakin terpisah dan terputus dari produksi makanan dan barang-barang pokok. Dan iklim yang berubah dapat merusak kemampuan kita untuk kembali ke praktik pertanian sederhana.

Pikirkan peradaban sebagai tangga yang dibangun dengan buruk. Saat Anda memanjat, pijakan yang Anda gunakan sebelumnya, jatuh. Jatuh dari ketinggian hanya beberapa anak tangga, tidak apa-apa. Namun semakin tinggi Anda naik, semakin sakit jika jatuh. Akhirnya, setelah Anda mencapai ketinggian yang cukup, jatuh dari tangga itu berarti fatal.

Dengan proliferasi senjata nuklir, kita mungkin telah mencapai titik "kecepatan terminal" peradaban ini. Setiap keruntuhan —setiap kejatuhan dari tangga — berisiko permanen. Perang nuklir itu sendiri dapat mengakibatkan risiko eksistensial: kepunahan spesies kita, atau terlempar permanen kembali ke Zaman Batu.

Sementara kita menjadi lebih kuat dan tangguh secara ekonomi, kemampuan teknologi kita juga menghadirkan ancaman yang belum pernah dihadapi peradaban sebelumnya. Misalnya, perubahan iklim yang kita hadapi memiliki sifat yang berbeda dengan apa yang menghancurkan suku Maya atau Anazasi. Perubahan iklim kita bersifat global, digerakkan oleh manusia, lebih cepat, dan lebih parah.

Yang mempercepat kehancuran yang kita buat sendiri tidak akan datang dari tetangga yang kejam, tetapi dari kekuatan teknologi kita sendiri. Keruntuhan, dalam kasus kita, bisa berarti jebakan kemajuan.

Runtuhnya peradaban kita tidak bisa dihindari. Sejarah menunjukkan kemungkinannya, tetapi kita punya keuntungan yang unik karena kita bisa belajar dari puing-puing masyarakat masa lalu.

Kita tahu apa yang perlu dilakukan: emisi dapat dikurangi, ketidaksetaraan disetarakan, degradasi lingkungan diperbaiki, inovasi dibebaskan dan ekonomi diberagamkan. Usulan kebijakannya sudah tersedia. Hanya kemauan politik lah yang kurang.

Kita juga bisa berinvestasi untuk pemulihan. Ada banyak ide yang bisa dikembangkan dengan baik untuk meningkatkan kemampuan sistem makanan dan pengetahuan untuk pemulihan setelah bencana.

Menghindari penciptaan teknologi berbahaya dan dapat diakses secara luas juga sangat penting. Langkah-langkah seperti itu akan mengurangi kemungkinan keruntuhan di masa depan.

Kita hanya akan melaju menuju keruntuhan jika kita maju secara membabi buta. Kita hanya akan dikutuk jika kita tidak mau mendengarkan masa lalu.

Luke Kemp adalah periset yang berbasis di Centre for the Study of Existential Risk di Universitas Cambridge. Akun Twitternya @lukakemp.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini