nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengurai Sejarah Makassar dan Aborigin untuk Kembali Jalin Persahabatan

ABC News, Jurnalis · Jum'at 14 Desember 2018 08:21 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 14 18 1991108 mengurai-sejarah-makassar-dan-aborigin-untuk-kembali-jalin-persahabatan-e7wErS94hc.jpg Napak tilas warga Makassar dan Suku Aborigin di Australia. (Foto: Dr Lily Yulianti Farid)

NURABDIANSYAH, akrab disapa Abi, adalah seorang seniman visual asal Kota Makassar, Sulawesi Selatan, dan aktivis seni yang kerap menyuarakan kegiatan kreatif di tempat asalnya. Pada Kamis 6 Desember 2018, ia menginjakkan kaki di Kota Darwin, Australia Utara, untuk pertama kalinya.

Setelah melihat dan berinteraksi langsung dengan warga Australia, khususnya Suku Aborigin, pandangan Abi soal Australia berubah dari sebelumnya yang kebanyakan didapat dari pemberitaan hubungan Indonesia dan Australia yang seringkali naik-turun.

Sebagai seorang dosen komunikasi visual di Universitas Negeri Makassar, Abi sudah mengetahui sejarah hubungan Australia dan Indonesia di masa lampau yang dimulai melalui kerja sama perdagangan yang dilakukan nelayan Makassar dengan Suku Aborigin.

"Tapi ternyata hubungan yang kita miliki lebih dari sekadar berdagang biasa, melibatkan juga banyak interaksi dan pertukaran budaya," ujar Abi kepada Erwin Renaldi dari ABC News di Melbourne.

Seniman Makassar Nurabdiansyah. (Foto: Dok pribadi)

Abi datang ke Australia bersama dua seniman lainnya di Makassar. Mereka adalah Adi Gunawan, seniman peraih sejumlah penghargaan; serta Muhammad Rais yang juga dikenal sebagai sutradara dan produser sejumlah film.

Mereka sedang mengikuti program pertukaran seniman Makassar dan Yirkalla yang digelar Victorian College Arts milik University of Melbourne dan Rumata Artspace di Makassar.

Selama sepuluh hari, tiga seniman Makassar dan tiga seniman Aborigin dari Suku Yolngu melakukan "napak tilas" leluhur mereka ke Makassar dan dua kota di Australia Utara, Darwin, dan Yirkalla.

Program ini bertujuan menyegarkan kembali hubungan sejarah tentang pelaut dan penangkap ikan dari Makassar yang sudah menjalin hubungan dagang serta budaya di antara dua masyarakat, seperti yang dijelaskan Dr Lily Yulianti Farid, salah satu penanggung jawab program ini.

"Kami ingin memulai sebuah hubungan di tingkat masyarakat akar rumput dengan melibatkan seniman-senimana muda," ujarnya.

Semua Berawal dari Teripang

Saat berkunjung ke Makassar, ketiga seniman dari Suku Yolngu yakni Dion Marimunuk Gurruwiwi, Barayuwa Mununggurr, dan Arian Pearson diajak melihat salah satu pusat budi daya teripang yang masih ada hingga sekarang.

Teripang menjadi komoditas yang membuat nelayan Makassar dan Suku Aborigin bekerja sama menjalin hubungan dagang, jauh sebelum kedatangan Inggris serta bangsa Eropa ke Benua Australia.

Dari sejumlah studi literatur disebutkan bahwa teripang tidaklah dikonsumsi orang Makassar ataupun Suku Aborigin. Konsumennya adalah bangsa China yang percaya teripang memiliki khasiat kesehatan.

Teripang. (Foto: University of Sunshine Coast)

Menurut Dr Lily, hubungan dagang dua masyarakat ini mengutamakan persahabatan dan kesetaraan. Oleh karena itu, orang Makassar yang datang ke Benua Australia tidaklah dianggap sebagai tamu, tapi pendatang yang dipersilakan menetap.

Sementara bagi Abi, salah satu hal yang membuatnya paling takjub selama berkunjung ke kawasan pesisir Australia Utara adalah saat Suku Yolngu begitu ramah saat menyambut kedatangan mereka, lengkap dengan upacara adat.

"Orang-orang (dari Suku) Yolngu menganggap bahwa Makassar adalah saudara jauh. Mereka merasa tidak asing dengan orang Makassar dan memiliki kerinduan yang besar dengan kedatangan orang-orang Makassar," ujarnya.

Dr Lily yang juga berasal dari Makassar dan ikut menemani ketiga seniman selama di Australia mengatakan ada momen yang mengharukan saat mereka bertemu Suku Yolngu.

"Kita bernostalgia dan bahkan menangis bersama saat mulai membicarakan kata-kata yang kita sama-sama bisa mengerti artinya."

Selama nelayan menetap di Australia Utara menunggu kembali ke Makassar, mereka telah memperkenalkan beragam unsur budaya, termasuk tutur bahasa kepada bangsa Aborigin.

(Foto: Dr Lily Yulianti Farid)

Akan Perbaiki Hubungan Lewat Budaya

Pengalaman yang mengharukan sekaligus menginspirasi selama mempelajari bagaimana nenek moyang para seniman berinteraksi satu sama lain tentu tidak akan mereka simpan sendiri.

Rencananya sebuah film dokumenter tentang perjalanan mereka selama enam hari akan diluncurkan pada awal 2019.

Para seniman ini juga bakal membuat karya berdasarkan interpretasi dan refleksi masing-masing dari apa yang mereka rasakan dan alami selama berada di Makassar dan Australia Utara.

"Mereka akan brainstroming, kemudian mulai membuat karya. Kita sebagai pengelola program tentu tidak akan mendikte, hanya memfasilitasi dan memberikan informasi," ujar Dr Lily.

Ada banyak individu di Indonesia dan Australia yang merasa hubungan kedua negara saat ini bagaikan "musuh dalam selimut".

Tapi, menurut Abi, kebudayaan bisa menjadi salah satu jalan alternatif untuk memperbaikinya.

"Jalan kebudayaan sangat tidak tergantung pada hal-hal yang administratif, tapi berkaitan dengan interaksi dan kebiasaan."

"Sudah sejak ratusan tahun lalu ada kultur yang sama, ini seharusnya membantu hubungan dua negara lebih bagus, karena ada dasar yang kuat."

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini