nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

LBH Perindo: Pasal Kedewasaan dalam UU Perlindungan Anak Perlu Ditinjau Ulang

Fathnur Rohman, Jurnalis · Jum'at 12 April 2019 02:50 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 12 525 2042305 lbh-perindo-pasal-kedewasaan-dalam-uu-perlindungan-anak-perlu-ditinjau-ulang-Cx3x2IC2uD.jpg

CIREBON - Kasus penganiayaan yang dialami anak berinisial AU, oleh sejumlah perempuan di Pontianak, menyedot perhatian publik. Tidak terkecuali Ketua LBH Perindo, Ricky Kurnia Margono. Menurutnya, perlu ada peninjauan kembali, terkait kedewasaan seseorang di dalam undang-undang perlindungan anak.

"Kami LBH Perindo mendorong untuk meninjau kembali, tentang pasal yang menyatakan kedewasaan seseorang, dalam undang-undang perlindungan anak, " jelasnya, kepada Okezone, Kamis (11/4/2019).

Ricky menuturkan, dalam undang-undang perlindungan anak, sesorang yang dinyatakan dewasa dan bisa terkena hukuman pidana, adalah orang yang sudah menginjak usia 18 tahun ke atas. Sedangkan, sebelum adanya undang-undang perlindungan anak, yakni merujuk pada undang-udang pidana, seseorang yang berumur 16 tahun ke atas sudah bisa dijatuhi kukuman.

Dipaparkan Ricky, saat ini, dengan kecanggihan teknologi yang semakin maju, membuat orang yang berusia antara 15 atau 16 tahun sudah bisa dikategorikan dewas. Ia mengaku, dengan adanya kejadian yang menimpa AU dan kasus-kasus serupa yang sebelumnya terjadi, ia mengingatkan, perlu adanya peninjauan lebih lanjut, mengenai seseorang yang dinyatakan dewasa saat usia 18 tahun.

"Dengan banyaknya kasus seperti AU ini, menurut kami, usia 18 tahun sudah tidak bisa dikategorikan untuk memandang seorang anak itu dewasa. Mungkin usia 15 atau 16 tahun sudah bisa dikatakan dewasa, karena di umur itu mereka sudah bisa mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya," sambungnya.

Ia mengungkapkan, saat ini kedewasaan seseorang sudah tidak bisa lagi dikategorikan, atau sudah tidak bisa dilihat berdasarkan segi usianya.

Melihat fenomena para remaja penganiaya AU, yang mengunggah foto mereka ketika berada di kantor polisi, Ricky secara tegas mengatakan, hal tersebut bisa terjadi karena mereka tidak memiliki beban, atas kasus yang dialami AU.

"Mereka bisa seperti itu karena pola hukuman yang dilakukan itu, adalah hukuman terhadap anak. Mereka hanya dipanggil orang tuanya saja. Jadi mereka tidak ada beban sama sekali," tambahnya.

Peninjauan ulang terhadap undang-undang perlindungan anak, menurutnya, harus melibatkan beberapa pihak, seperti psikolog dan sebagainya. Mengingat, saat ini kasus-kasus serupa yang mirip seperti AU sudah banyak terjadi.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini