Melihat Kisah Hidup Pengacara Kondang Henry Indraguna via Buku Autobiografinya

Bramantyo, Jurnalis · Senin 15 April 2019 00:04 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 14 606 2043487 melihat-kisah-hidup-pengacara-kondang-henry-indraguna-via-buku-autobiografinya-xTpMV5Rh7o.jpg Peluncuran buku Henry Indraguna (Bramantyo/Okezone)

SOLO – Pengacara kondang yang kerap mendampingi kasus artis-artis Tanah Air, KRAT Henry Indraguna meluncurkan buku autobiografinya yang mengisahkan jatuh bangun perjalanan hidupnya hingga sukses seperti sekarang.

Buku biografi berjudul "True Story' Henry Indraguna” diluncurkan di Solo, Jawa Tengah, Minggu (14/4/2019). Dalam bukunya, Henry yang merupakan caleg DPR RI dari Partai Perindo dapil Jawa Tengah V mengulas kisah hidupnya.

Banyak orang mengira Henry Indraguna berasal dari keluarga yang bergelimang harta. Namun, hal itu dibantah oleh Henry melalui buku autobiografinya setebal 180 halaman ini.

Bendahara Umum Kongres Advokad Indonesia (KAI) itu membuka rahasia perjalanan dirinya.

"Autobiografi ini sengaja saya tulis agar masyarakat paham siapa saya. Termasuk apakah saya berasal dari keluarga kaya atau miskin, hingga akhirnya kehidupan saya sekarang ini," kata Henry dalam konferensi pers peluncuran buku atobiografinya di Solo.

Dalam tulisan yang dibagi dalam tujuh bab ini, Henry menceritakan bila dirinya bukanlah berasal dari keluarga kaya. Malah sebaliknya, sejak usia 4 tahun, pria kelahiran 29 Agustus 1973, sudah menelan pil pahit.

"Ayah saya aslinya Wonogiri, ibu saya aslinya Bandung. Pada usia 4 tahun, saya menerima kenyataan pahit, kedua orangtua saya berpisah," ujar Henry.

Saat kedua orangtuannya berpisah, Hendry dibawa ayahnya ke Wonogiri. Sejak saat itulah dirinya tinggal di Wonogiri.

Selama tinggal dengan ayahnya, Henry diajarkan untuk tidak cengeng dan lemah. Kalau dia pulang ke rumah dalam keadaan menangis karena berkelahi, ayahnya akan marah. Sang ayah meminta Henry tak usah pulang bila menangis karena berkelahi.

"Jadi setiap saya pulang ke rumah saya nangis, ayah saya marah. Saya dimarahi. Saya diminta untuk berani melawan dan jangan pulang ke rumah kalau saya belum menang," kata Henry sambil tertawa.

Berkat didikan keras oleh ayahnya, Henry tumbuh jadi anak yang tak mudah menyerah dan mandiri. Bahkan dirinya sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri waktu SMP.

Kemandirian yang terbangun sejak kecil, tutur Henry, membuat dirinya kreatif dalam membangun masa remajanya.

"Kondisi itu membuat saya terkena. Saya menjadi hedonis. Akibatnya, saat saya menikahi istri saya malah saya beri kado utang ratusan juta rupiah," ujar Henry sambil melirik ke arah istrinya Fangky Christina Indraguna yang duduk di sebelahnya.

Di bab ke IV, Henry menceritakan dirinya bangkit dari keterpurukannya dengan mendirikan usaha salon dan cuci mobil. Dengan keahlian marketing yang dimiliknya, Henry pun mampu membangun usahanya itu.

Saat menekuni bisnisnya itulah Henry kerap menemukan kejadian ketimpangan hukum antara si kaya dan si miskin. Melihat ketimpangan itulah Henry teringat saat hidupnya yang susah waktu kecilnya dulu.

"Atas dasar itulah dirinya terjun menjadi seorang pengacara. Mengawali karir sebagai pengacara pun saya tak mudah. Banyak perjuangan yang harus saya lalui. Hingga akhirnya, saat ini setiap harinya, kasus yang harus saya tangani tak pernah berhenti setiap harinya,"ujarnya.

Melalui buku autobiografinya, Henry ingin memotivasi masyarakat untuk terus berusaha mengejar mimpi. Menurut Henry, jangan salahkan bila terlahir dari keluarga tak mampu, tapi salahkan diri bila meninggal tak memiliki apa-apa.

"Setiap saya bangun tidur membuka mata saya bersyukur saya masih diberi hidup. Yang berarti hidup saya ini harus berguna untuk orang lain," ujar Henry yang kini terjun ke dunia politik.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini