'Saya Jual Putri Saya yang Berusia 5 Tahun untuk Biaya Berobat Putra Kami'

Agregasi BBC Indonesia, · Minggu 21 April 2019 12:36 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 21 18 2046065 saya-jual-putri-saya-yang-berusia-5-tahun-untuk-biaya-berobat-putra-kami-uQmkKIHWV3.jpg Ilustrasi Jilla Dastmalchi (BBC)

Perkawinan tak bahagia

Akibat kekeringan parah, keluarga itu memutuskan untuk menikahkan putri mereka agar dapat bertahan hidup.

Tahun lalu, Nazanin berusia 10 tahun dan keluarganya mengatur pernikahannya yang dihadiri lebih dari 100 orang.

"Saya berikan apapun untuk putri saya. Uang dari perkawinan ini tak begitu banyak juga," kata ayahnya.

Namun pesta pernikahan itu bukan acara bahagia.

"Bila saya tak sangat kesulitan, saya tak akan menjual anak saya. Saya tak akan melakukannya, tapi saya perlu uang. Saya terpaksa melakukannya," kata sang ayah.

"Apa yang bisa kami lakukan. Banyak keluarga lain juga melakukan hal yang sama karena kekeringan menyebabkan kesulitan uang."

Penelitian tahun 2015 oleh dewan pengungsi Norwegia menyebutkan perempuan dan anak yang mengungsi menghadapi risiko dikawinkan dengan orang yang lebih tua yang mampu memberi uang mahar.

Namun Nazanin yang saat ini berusia 11 tahun tak menikah dengan orang tua.

"Ia tinggal selama dua bulan di rumah mertuanya. Mereka memperlakukannya seperti anak sendiri. Suaminya berusia 12 tahun. Dia juga sangat pemalu dan tak banyak bicara," kata ibunya.

Nazanin tak pernah ditanya tentang pernikahannya. Ibu dan ayahnya tak pernah memberi tahu tentang tanggung jawab dalam pernikahan.

Tak mengejutkan kalau Nazanin sulit beradaptasi dengan kehidupan berumah tangga.

Tak lama kemudian, Nazanin kembali ke kamp pengungsian bersama orang tuanya. Pihak mertua mengatakan akan menjemputnya kembali dalam dua atau tiga tahun mendatang.

"Ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan mertua dan suaminya," kata ayahnya.

"Mereka tinggal di provinsi Nimruz, dan 10 hari lalu, menantu kami berkunjung beberapa hari," katanya.

Tingginya pernikahan anak

Unicef mencatat 161 pernikahan anak di Herat dan Badghis antara Juli dan Oktober tahun lalu. Dari jumlah ini 155 adalah perempuan dan enam anak laki.

"Pernikahan anak seperti menjadi normal sosial di sebagian tempat. Situasi ini semakin parah karena perang dan kekeringan," kata ketua komunikasi Unicef di Adghanistan, Alison Parker.

Pemerintah Afghanistan menerapkan rencana ambisius lima tahun untuk mengakhiri pernikahan anak dan perkawinan paksa pada 2021. RUU itu juga akan meningkatkan usia pernikahan anak perempuan menjadi 18 tahun.

Keluarga Nazanin sampai saat ini masih tinggal di kamp pengungsi dan menanti bantuan dari pemerintah atau badan bantuan.

Satu-satunya harapan di kamp itu adalah tawaran untuk belajar di sekolah.

Keluarga ini merasa bangga karena putri tertua mereka dapat menulis nama mereka dan juga nama ayah mereka.

Dua putra mereka yang lain juga punya kesempatan untuk sekolah.

Staf perlindungan anak untuk Unicef, Alfred Mutiti mengatakan, "empat dekade perang saudara menghancurkan fasilitas mendasar. Di banyak tempat di Afghanistan, penduduk desa tak bisa mendapatkan modal. Lingkungannya sulit dan tak ada yang mau mendanai mereka."

"Sebagian besar keluarga yang mengungsi memiliki hutang banyak dan tak bisa membayar hutang. Bila pun dibantu, tak akan cukup," tambahnya.

Di kamp pengungsian, ibu Nazanin mengatakan ia menyesal sempat menjual anak perempuannya demi biaya berobat.

"Nazanin mengatakan kepada saya, Ibu menjual saya saat saya kecil, namun adik tak sembuh juga," kata ibu Nazanin.

Namun satu hal yang membuat hatinya terhibur adalah karena Nazanin juga mengatakan, "adik akan sembuh dan saya juga akan meningkat dewasa."

"Saya menyesal menjualnya namun saya masih punya harapan untuk masa depan yang lebih baik," tutup ibu Nazanin.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini