Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tabir Kematian Caleg Golkar Terkuak, Keluarga dan Kerabat Dirundung Kesedihan

Bramantyo , Jurnalis-Selasa, 23 April 2019 |19:37 WIB
Tabir Kematian Caleg Golkar Terkuak, Keluarga dan Kerabat Dirundung Kesedihan
Keluarga Sugimin (Foto: Bramantyo)
A
A
A

SRAGEN - Teka-teki meninggalnya Sugimin (52), caleg incumbent DPRD Sragen dari Partai Golkar di depan SMP Negeri 1 Wonogiri, Giritirto, Kecamatan/Kabupaten Wonogiri berhasil diungkap Kepolisian Resor (Polres) Wonogiri.

Kematian korban dirasakan pihak keluarga penuh dengan kejanggalan. Sehingga mereka meminta agar jenazah korban diautopsi.

Kepada okezone, putra sulung almarhum, Deni Gian Kurniawan mengatakan, meski ikhlas menerima kenyataan ini, namun ia tak mengira sama sekali bila ayahnya meninggal dengan kondisi seperti itu.

Di mata keluarga, ayahnya sosok yang baik dan perhatian serta sangat sayang sekali terhadap keluarganya. Meski ayahnya itu orangnya tegas, namun sangat suka sekali bercanda dengan keluarganya.

Deni mengaku sejak kecil dididik untuk menjadi anak yang mandiri. Karena sang ayah juga sosok mandiri, pekerja keras, hingga akhirnya mendapat amanah menjadi wakil rakyat.

"Beliau selalu mengajarkan kedisiplinan dan kemandirian, tegas namun sangat sayang dan baik pada semua anaknya. Nggo anak itu gak tau eman (buat anak itu apapun diberikan tidak pernah pelit)," ujar Deni, Selasa (23/4/2019).

(Baca Juga: Kronologi Penemuan Caleg Golkar yang Meninggal Jelang Pencoblosan Setelah Sempat Menghilang)

Deni menuturkan, sang ayah memulai usaha dari nol dengan membuka toko kelontong. Berkembang menjadi berjualan kain dengan cara membeli (kulakakan) di pasar Klewer, lalu dijual ke luar Jawa dan seminggu sekali baru pulang ke Sragen.

"Sampai akhirnya punya usaha konveksi sendiri," ujarnya.

Deni mengaku karena kesibukan dirinya dan sang ayah, pertemuan terakhir dengan sang ayah sekira dua minggu sebelum peristiwa kematian. "Waktu bertemu terakhir, ya, seperti biasa, bercanda terus menanyakan gimana keadaan keluarga dan pekerjaan saya," katanya.

(Baca Juga: Sempat Hilang Kontak, Caleg Petahana Golkar Ditemukan Meninggal Sehari Jelang Pemilu 2019)

Tak hanya pihak keluarga, kesedihan atas kematian Sugimin pun begitu dirasakan Partai Golkar Sragen. Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Sragen Bambang Widjo Purwanto menyampaikan rasa duka cita atas kejadian yang menimpa rekannya tersebut.

"Kita berduka cita yang dalam karena kehilangan kader yang sangat aktif pemberani," ujar Bambang. 

Menurut Bambang, dirinya sempat bertemu korban sebelum ditemukan tak bernyawa di pinggir jalan di wilayah Wonogiri. Saat bertemu, Sugimin dalam kondisi sehat.

"Tidak ada yang aneh dengan Pak Sugimin. Saya terakhir kali bersamanya pada hari Rabu, Minggu kemarin di Surabaya. Bahkan, saya banyak sekali bicara dengannya terkait pencalegan," katanya.

Sugimin duduk sebagai anggota DPRD menggantikan Edi Harjono melalui proses pergantian antar-waktu (PAW), pada 2015. Pada tahun ini maju kembali di pileg dari dapil I ( Sragen, Masaran, Sidoharjo) dari Golkar. 

"Meski orang baru, menggantikan Harjono (Edi Harjono) dalam proses pergantian antar waktu (PAW), namun orangnya aktif dan gampang berinteraksi," ujarnya.

Tabir kematian Sugimin mulai terkuak. Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Wonogiri akhirnya mampu mengungkap sejumlah fakta terkait kematian caleg petahana dari Golkar ini. Seorang wanita berinisial N diduga sebagai pelaku utamanya.

N (41) yang saat ini sudah diamankan ternyata berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kediri.

Kasatreskrim Polres Wonogiri AKP Aditia Mulya Ramdhani menjelaskan, dari hasil olah tempat kejadian perkara serta penyelidikan, pelaku berinisial N ini diduga telah merencanakan pembunuhan terhadap Sugimin.

Ide untuk menghabisi korban muncul saat korban mengeluh diare. Dari situlah N memberikan kapsul diare yang isinya sudah diganti dengan racun.

"Tanpa rasa curiga, korban pun langsung meminumnya. Bukannya sembuh, korban justru merasakan sakit," ujarnya.

Melihat korban mengeluhkan sakit, pelaku rupanya merasa tak tega dan langsung membawanya ke rumah sakit.

Rupanya niat N untuk menghabisi korban rupanya tak pernah berhenti. Selang beberapa waktu kemudian, N kembali memberikan kapsul berisi racun tikus kepada Sugimin.

Korban lagi-lagi mengeluhkan sakit. Dan sekali lagi, karena merasa tak tega, N pun membawanya kembali ke RS dr Oen Solo Baru.

Setelah diizinkan keluar dari rumah sakit usai menjalani perawatan, N sekali lagi memberikan kapsul berisi racun tikus kepada Sugimin untuk ketiga kalinya. "Tapi yang ketiga ini, pelaku tak langsung membawa korban kerumah sakit. Tapi justru pelaku membawa korba berkeliling dulu naik taksi online," ungkapnya.

Dalam perjalanan itulah korban sekarat dan tak sadarkan diri. Mengetahui kondisi korban, ungkap Aditia, pelaku merasa panik luar biasa. Karena panik, pelaku pun menghubungi rekannya.

Saat itu, N meminta rekannya menjemput korban di suatu tempat, lalu membawa korban ke RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso. Kepada rekannya, N meminta bila ditanya oleh petugas IGD, agar menyampaikan kepada petugas, bila mereka menemukan korban yang sudah dalam keadaan sakit di utara SMPN 1 Wonogiri.

Namun, setelah diperiksa oleh dokter, saat tiba di rumah sakit, korban sudah dalam keadaan meninggal dunia. Ditetapkannya N sebagai tersangka dan motif pelaku menghabisi korban membuat keluarga merasa lega. Keluarga pun meminta polisi agar memberikan hukuman setimpal terhadap pelaku.

"Pihak keluarga besar menyerahkan penanganan kasus ayahnya sesuai dengan proses hukum yang ada. Bahwa pelaku bisa dihukum setimpal atas perbuatannya," ujar Deni.

Deni sendiri mengaku pernah bertemu dengan sosok N yang diduga memberikan kapsul berisi racun tikus pada ayahnya, sekira satu tahun yang lalu. Ditambahkan Deni, saat itu dirinya bertemu dengan N yang tengah membesuk ayahnya yang sedang menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Solo. Ia hanya tahu kalau N adalah salah satu kolega ayahnya.

"Pernah lihat (tersangka) sewaktu besuk ayah saat diopname di rumah sakit di Solo tapi sudah setahun lalu," ujarnya.

Korban merupakan warga Karangnongko RT 10 RW 03, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Almarhum meninggalkan seorang istri bernama Nurlela dan dua anak Deni Gian Kurniawan dan Tasya.

(Arief Setyadi )

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement