nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menkominfo: Tahun Pemilu, Tahunnya Berita Hoaks!

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Kamis 25 April 2019 12:47 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 04 25 337 2047866 menkominfo-tahun-pemilu-tahunnya-berita-hoaks-yVyUaYEn6b.jpg Menkominfo RI, Rudiantara (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara membeberkan selama kurun waktu dari pertengahan tahun 2018 hingga saat ini, jumlah konten berita bohong alias hoaks yang beredar di media sosial (medsos) meningkat tajam.

Pada bulan Agustus 2018, Kominfo mengidentifikasi hanya terdapat 25 berita hoaks. Jumlah ini melonjak tajam ketika memasuki tahun politik, yaitu terdapat 175 berita hoaks di bulan Januari, 353 di bulan Februari, 453 di bulan Maret dan 353 di bulan April hingga pasca-hari pemilihan umum.

"Tahun Pemilu, tahunnya berita hoaks. Berita hoaks melonjak drastis. Kategorinya bermacam-macam, paling banyak hoaks tentang politik pencapresan Pemilu," kata Rudiantara dalam keterangannya yang diterima Okezone di Jakarta, Kamis (25/4/2019).

Rudiantara membeberkan bahwa salah satu konten yang paling berbahaya dari konten hoaks yakni terdapat muatan yang membenturkan antarsesama umat Islam.

Menurut dia, hoaks yang mengadu domba tersebut paling berbahaya lantaran berpotensi memecah belah bangsa. Ia pun mengimbau seluruh masyarakat untuk senantiasa bertabayyun dengan cara mengetahui karakteristik dari berita hoaks yang beredar di medsos.

"Caranya kenali ciri berita hoaks. Kalau sudah mengatasnamakan golongan, di bawahnya ditulis 'ayo viralkan', ini kecenderungan hoaks," ujarnya.

Ia menambahkan, salah satu penyebab cepatnya beredar berita hoaks lantaran adanya watak umum masyarakat Indonesia yang ingin menjadi orang yang pertama mengetahui salah satu peristiwa. Sehingga, hoaks dengan cepat menyebarkan berita tanpa tahu kebenaran dari isi berita tersebut.

Ilustrasi Hoaks

"Walaupun bukan yang bikin (hoaks), tetapi menyebarkan, jadinya kan ikut dosa juga dan menjadi bagian dari berita fitnah. Kalau tidak tabayyun jadi rugi dua kali, pulsa kesedot, lalu menjadi bagian dari hal yang negatif tersebut. Rugi dunia, rugi akhirat," ujarnya.

Kominfo juga memberikan contoh berita hoaks yang sempat menggemparkan publik. Pertama, berita tentang website penghitungan suara KPU di-hack. Kedua, kardus Pemilu seharga Rp25 triliun.

Kemudian ketiga, di Bukittinggi beredar berita dan foto di Facebook oleh salah satu akun yang berisi uang sumbangan jamaah tabligh akbar Bukittinggi untuk sukseskan capres 02 dan berita tentang bagasi mobil dinas RI 1 jadi tempat penyimpanan kaus.

"Semua berita tersebut adalah sebagian kecil dari contoh berita hoaks dan telah dilakukan pengusutan terhadap pembuat dan penyebar berita-berita bohong tersebut," tuturnya.

(put)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini