BANJIR yang terjadi di Jakarta membuat warganet bertanya tentang kebijakan Gubernur Jakarta Anies Baswedan dalam menanggulangi banjir. Pengamat tata kota juga mengkritik konsep naturalisasi sungai Anies yang hingga kini belum jelas.
Banjir di Jakarta (26/4) menewaskan dua warga dan membuat 2.370 orang mengungsi, menurut data yang dirilis BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) DKI Jakarta.
BPBD melaporkan terdapat 43 titik Banjir, yang terdiri dari lima titik di wilayah Jakarta Selatan dan 21 titik di wilayah Jakarta Timur.
Penyebab banjir, menurut BPBD, adalah intensitas curah hujan tinggi di Wilayah Bogor yang menyebabkan meluapnya Sungai Ciliwung (26/4) pada dini hari.
Kejadian ini diikuti dengan munculnya tagar #AniesDimana, yang menjadi trending topic teratas di media sosial Twitter, di mana warganet mempertanyakan peran Gubernur Jakarta Anies Baswedan dalam mencegah banjir tahunan yang terjadi.
#AniesDimana
— fitriany dewie (@firefly_dewi) 26 April 2019
Pak Anies be like: pic.twitter.com/X8raLpF2dF
Sementara, mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama juga ikut mengkomentari insiden ini di akun Twitternya.
Kepada warga DKI, harap waspada terhadap banjir. Mari fokus untuk membantu para korban banjir. Dan jangan membuang sampah sembarangan. https://t.co/oV2a9NY4P5
— Basuki T Purnama (@basuki_btp) 26 April 2019
Apa kata Anies?
Anies mengatakan penyebab banjir adalah wilayah pesisir, termasuk Jakarta dan kawasan lain seperti Tangerang Selatan, Depok, dan Bekasi, menerima limpahan air dari hulu yang volumenya besar.
Ia mengatakan solusinya adalah pengendalian volume air dari hulu.