Hal ini tampak jelas, menurut Khambule, pada rendahnya daya tahan Mozambik dalam menghadapi topan Kenneth yang memakan 40 korban jiwa pada tanggal 25 April lalu.
Juga pada bulan Maret, lebih dari 900 orang meninggal di Mozambik, Malawi dan Zimbabwe akibat dampat Topan Idai.
Bahkan Afrika Selatan yang punya infrastruktur lebih canggih, harus berjuang menghadapi cuaca ekstrem seperti krisis air Day Zero di tahun 2018 dan banjir baru-baru ini di Kwa-Zulu Natal, kata Khambule.
"Negara-negara Afrika menyumbang sangat kecil pada terjadinya perubahan iklim, namun menghadapi dampak yang besar yang tidak siap untuk mereka hadapi."
Ketidakadilan
Menurut kajian itu, antara tahun 1961 hingga 2010 sebanyak 18 negara dengan total emisi historis mereka kurang dari 10 ton CO2 per kapita (sembilan ton) telah menderita dampak negatif pemanasan global - dengan pengurangan 27% pada GDP per kapita dibanding dengan skenario tanpa peningkatan temperatur.
Secara kontras, sebanyak 14 dari 19 negara yang jumlah emisi historis mereka melebihi 300 ton CO2 per kapita (272 ton) telah mendapat keuntungan dari pemanasan global - dengan kontribusi ke GDP per kapita 13 persen.
"Tak hanya negara-negara miskin tidak mendapat manfaat penuh dari konsumsi energi, tapi beberapa telah dibuat lebih miskin (secara relatif) oleh konsumsi energi dari negara-negara kaya," kata kajian tersebut.
Namun temuan ini juga mendapat kritik.
Solomon Hsiang, Profesor Kebijakan Publik di UC Berkeley, yang pernah bekerja sama dengan dua peneliti ini di masa lalu, mengatakan bahwa sekalipun dampak pemanasan global di negara-negara miskin dan panas "kemungkinan besar benar", dampak negatif di negara-negara kaya juga terasa.
"Kita melihat kerusakan yang tertunda muncul di negara-negara kaya dengan menggunakan metode analisis yang sama. Maka jika melihat lebih jauh dari dampak di tahun pertama, kita bisa lihat kerusakan muncul di negara-negara yang dingin dan kaya, serupa dengan di negara panas dan miskin," katanya.
Juga tidak terlalu jelas bagaimana pertumbuhan terpengaruh di negara-negara tengah seperti Amerika Serikat, China dan Jepang - tiga negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Khambule mengatakan, "Dalam jangka panjang, perubahan iklim tak menguntungkat bagi siapapun. Jika terus melaju tak tertahankan, kita akan menghadapi perubahan iklim yang tak terkendali."
"Maka sangat penting bagi para emitor terbesar di dunia untuk mengurangi emisi gas mereka dengan segera."
"Para pengambil kebijakan harus memandang perubahan iklim lebih serius daripada anggapan mereka saat ini, dan memastikan ada peralihan dari bahan bakar fosil menuju kepada energi terbarukan," katanya.
(Salman Mardira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.