Setelah Lebih dari 500 Hari, Dua Jurnalis Reuters yang Dipenjara di Myanmar Akhirnya Dibebaskan

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 07 Mei 2019 11:14 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 07 18 2052457 setelah-lebih-dari-500-hari-dua-jurnalis-reuters-yang-dipenjara-di-myanmar-akhirnya-dibebaskan-sZv8eyJWrg.jpg Wa Lone (kiri) dan Kyaw Soe Oo melambaikan tangan mereka saat keluar dari Penjara Insein di Yangon, Myanmar, 7 Mei 2019. (Foto: Reuters)

YANGON – Dua jurnalis Reuters yang dipenjara di Myanmar atas tuduhan melanggar Undang-Undang Kerahasiaan Negara dibebaskan dari sebuah penjara di pinggiran Kota Yangon pada Selasa setelah menghabiskan 500 hari di balik jeruji besi.

Kedua jurnalis, Wa Lone, 33 tahun, dan Kyaw Soe Oo, 29 tahun, divonis pada September dan dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara, dalam kasus kontroversial yang memicu protes dari diplomat dan pembela hak asasi manusia.

Dibebaskannya Wa Lone Dan Kyaw Soe Oo merupakan bagian dari pengampunan atau amnesti massal yang diberikan Presiden Myanmar sejak bulan lalu. Telah menjadi kebiasaan bagi pihak berwenang di Myanmar untuk membebaskan tahanan di seluruh negeri saat merayakan Tahun Baru tradisional, yang dimulai pada 17 April.

BACA JUGA: Liput Kekerasan Terhadap Muslim Rohingya, Dua Wartawan Reuters Dihukum Tujuh Tahun Penjara

Reuters mengatakan kedua pria itu tidak melakukan kejahatan apa pun dan menyerukan agar mereka dibebaskan.

“Saya sangat senang dan bersemangat melihat keluarga dan kolega saya. Saya tidak sabar untuk pergi ke ruang redaksi saya," kata Wa Lone di depan orang-orang yang menyambutnya dan mengucapkan selamat.

Dia juga menyampaikan ucapan terima kasih atas upaya dari dunia internasional untuk membebaskan mereka.

Sebelum penangkapan mereka pada Desember 2017, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo telah melakukan penyelidikan atas pembunuhan 10 pria Muslim Rohingya oleh pasukan keamanan dan warga sipil Budha di Negara Bagian Rakhine selama operasi penumpasan pemberontak yang dilakukan tentara mulaia Agustus 2017. PBB memperkirakan lebih dari 730.000 warga Rohingya terpaksa melarikan diri ke Bangladesh akibat operasi tersebut.

Laporan yang ditulis oleh kedua jurnalis itu, yang menampilkan kesaksian dari para pelaku, saksi dan keluarga para korban, dianugerahi Hadiah Pulitzer untuk pelaporan internasional pada Mei.

Setelah dibebaskan, kedua jurnalis itu diserahkan kepada Lord Ara Darzi, seorang ahli bedah Inggris dan ahli perawatan kesehatan yang telah bekerja sebagai anggota kelompok penasihat untuk pemerintah Myanmar, dan seorang perwakilan Reuters. Darzi menunggu Wa Lone dan Kyaw Soe Oo di gerbang penjara Insein di jalan di mana sekelompok wartawan dan fotografer telah menunggu.

BACA JUGA: Suu Kyi Bela Vonis Penjara Terhadap Dua Jurnalis Reuters di Myanmar

“Saya senang bahwa wartawan Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, telah diberikan grasi, dibebaskan dari tahanan, dan sekali lagi bersama orang yang mereka cintai. Saya tahu itu akan sangat melegakan keluarga, teman, dan kolega mereka, ”kata Darzi dalam pernyataan yang dilansir Reuters, Selasa (7/5/2019).

"Hasil ini menunjukkan bahwa dialog bekerja, bahkan dalam keadaan yang paling sulit," tambahnya.

Darzi mengatakan diskusi tentang pengampunan Wa Lone dan Kyaw Soe Oo telah melibatkan pemerintah Myanmar, Reuters, PBB dan perwakilan dari pemerintah lain tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang pembicaraan tertutup itu.

“Kekuatan dialog harus dialihkan untuk mengamankan perdamaian abadi di Negara Bagian Rakhine dan kembalinya ratusan ribu pengungsi, yang penderitaannya terus berlanjut. Ini penting jika Myanmar ingin membangun kemajuan hari ini sehingga semua warga negaranya dapat hidup bermartabat dengan harapan hari esok yang lebih baik, ”kata Darzi.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini