nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Singapura Laporkan Kasus Pertama Infeksi Virus Monkeypox

Rahman Asmardika, Jurnalis · Jum'at 10 Mei 2019 16:49 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 10 18 2054121 singapura-laporkan-kasus-pertama-infeksi-virus-monkeypox-4YgiLkyVfz.jpg Monkeypox. (Foto: CDC)

SINGAPURA – Singapura telah melaporkan kasus pertama virus langka monkeypox yang dibawa oleh seorang pria Nigeria yang menurut dugaan pihak berwenang terinfeksi melalui daging yang ia makan di sebuah pernikahan.

Monkeypox, virus yang mirip dengan cacar manusia yang diberantas pada 1980, tidak menyebar dengan mudah dari orang ke orang, tetapi dalam kasus yang langka dapat berakibat fatal.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), infeksi monkeypox pada manusia hanya didokumentasikan tiga kali di luar Afrika, yaitu di Amerika Serikat, Inggris, dan Israel.

Kementerian Kesehatan Singapura (MOH) dalam sebuah pernyataan pada Kamis malam mengatakan bahwa pasien yang terinfeksi adalah seorang warga Nigeria berusia 38 tahun yang tiba di Singapura pada akhir April.

"Meskipun risiko penyebarannya rendah, Kementerian Kesehatan mengambil tindakan pencegahan," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang dilansir Reuters, Jumat (10/5/2019). Kementerian itu menambahkan bahwa penyelidikan yang sedang berlangsung menunjukkan 23 orang telah diidentifikasi sebagai kontak dekat dengan pasien ketika ia berada di Singapura.

Pihak berwenang mengatakan sebelum kedatangannya di Singapura, pria itu menghadiri pernikahan di Nigeria di mana dia mungkin makan daging hewan liar yang bisa menjadi sumber penularan virus. Daging Bushmeat, yang bisa jadi daging simpanse, gorila, kijang, burung atau hewan pengerat, adalah makanan pokok dalam beberapa hidangan di Afrika.

Monkeypox biasanya berlangsung selama dua hingga empat pekan, dimulai dari demam dan sakit kepala dan berlanjut ke benjolan kecil yang disebut pustula yang menyebar ke seluruh tubuh.

Kasus monkeypox pada manusia secara sporadis telah dilaporkan di Afrika barat dan tengah sejak 1970-an, dan pada 2003, kasus pertama di luar Afrika dilaporkan di Amerika Serikat.

September lalu, Inggris melaporkan semua kasus pertamanya terkait dengan perjalanan di Nigeria.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini