nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Selain Suap, Kasatker SPAM Didakwa Terima Gratifikasi dalam Berbagai Mata Uang

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Rabu 15 Mei 2019 23:14 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 15 337 2056232 selain-suap-kasatker-spam-didakwa-terima-gratifikasi-dalam-berbagai-mata-uang-q3KXzihblF.jpg Ilustrasi (Okezone)

JAKARTA - Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Direktorat Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Anggiat P Nahot Simaremare menjalani sidang perdana kasus korupsi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat.

Selain dapat suap miliaran rupiah, terdakwa Anggiat Nahot juga didakwa menerima gratifikasi atau hadiah dalam bentuk berbagai mata uang terkait proyek SPAM.

Hal itu terungkap dalam berkas dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut pada KPK dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Rabu (15/5/2019).

Anggiat P Nahot duduk di kursi pesakitan di depan majelis hakim yang memimpin persidangan, menyimak dakwaan jaksa terhadapnya.

Jaksa KPK, I Wayan Riana menyampaikan bahwa Anggiat telah menerima gratifikasi selama mengemban berbagai jabatan di Kasatker PUPR maupun selama menjadi PPK di wilayah kerjanya.

"Telah melakukan perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang perbuatan berlanjut, menerima gratifikasi," kata Wayan Riana saat membaca dakwaan.

Jaksa menyebut, Anggiat menerima gratifikasi berupa uang Rp10,058 miliar, USD 348.500, SGD 77.212. Lalu AUSD 20.500 (dollar Australia), HKD 147.240 (dollar Hongkong), EUR 30.825 (Euro), GBP 4000 (Poundsterling Inggris), RM 345.712 Ringgit Malaysia).

 Korupsi

Kemudian, CNY 85.100 (Yuan China), KRW 6.775.000 (Won Korea), THB 158.470 (Bath Thailand), YJP 910.00 (Yen Jepang), VND 38.000.000 (Dong Vietnam), ILS 1800 (Shekel Israel) dan TRY 330 (Lira Turki).

Menurut jaksa, Anggiat diduga menerima gratifikasi itu selama mengemban berbagai jabatan PPK di wilayah kerjanya. Anggiat sendiri pernah menjadi Kasatker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Kalimantan Barat dari tahun 2009-2012.

Kemudian, Anggiat pernah menjadi Kasatker di Maluku Utara selama 2013-2016, dan pernah menjadi Kasatker Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2017.

Selanjutnya, Anggiat juga pernah menjadi Kepala Satuan Kerja Sistem Penyediaan Air Minum Strategis di Direktorat Cipta Karya Kementerian PUPR. Jaksa menduga gratifikasi itu berasal dari para rekanan yang mengerjakan proyek-proyek yang berada dibawah naungan Anggiat.

(Baca juga: KPK Sita Ruko Terkait Suap Proyek Air Minum Kementerian PUPR)

Menurut jaksa, sebagian uang gratifikasi itu dipergunakan untuk kepentingan pribadi Anggiat dan disimpan dibeberapa rekening bank, bercampur dengan pemberian dari rekanan-rekanan sejak tahun 2009-2018.

"Uang yang diterima oleh terdakwa ditukarkan dalam bentuk mata uang asing kemudian disimpan di Safe Deposit Box Bank," kata jaksa.

(Baca juga: KPK Identifikasi Aset Lain yang Disinyalir Hasil Suap Proyek Air Minum)

Menurut jaksa, Anggiat juga membeli dua ruko dan Mobil Pajero dari uang yang diterimanya. Dua ruko yang berada di Manado itu seharga Rp 2,2 miliar, sedangkan harga mobil tak dirinci.

"Perbuatan menerima uang dan barang tersebut haruslah dianggap karena berhubungan dengan jabatanya," ujar jaksa.

Atas perbuatannya tersebut, Anggiat didakwa melanggar Pasal 12 B ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

(sal)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini