Tolak People Power, Gerakan BEM Jakarta Sebut Banyak Dampak Negatifnya

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 16 Mei 2019 20:44 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 16 605 2056683 tolak-people-power-gerakan-bem-jakarta-sebut-banyak-dampak-negatifnya-sm2OkCUV6P.jpg Gerakan BEM Jakarta menolak people power (Foto: Ist)

JAKARTA - Gabungan Lintas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jakarta menyatakan menolak dan tidak sepakat dengan gerakan people power. Gerakan people power dianggap berpotensi menimbulkan perpecahan yang bisa berdampak pada korban jiwa, politik dan ketidakstabilan perekonomian.

“Gerakan BEM Jakarta mengambil sikap tegas yakni menolak dan tidak sepakat dengan rencana adanya gerakan people power," ujar Koordinator Andi Prayoga, dari Presma STEBANK Islam Jakarta, melalui siaran persnya, Kamis (16/5/2019).

Sikap tegas itu diambil setelah melakukan kajian fokus terhadap people power, dan mengetahui dampak positif dan negatif setelahnya, dan ternyata dampak negatifnya lebih besar. Maka, dengan tegas menolak rencana dilakukannya people power.

"Kami akan berusaha semaksimal mungkin melakukan edukasi publik akan bahayanya people power, dengan harapan agar masyarakat tidak ikut-ikutan terbawa arus kepentingan di balik people power," ujarnya.

(Baca Juga: Aktivis 98 Akan Jaga KPU dari Upaya People Power)

Ilustrasi

Ia menegaskan, jangan sampai masyarakat menjadi korban atas ketidaktahuannya mengenai bahayanya people power. Menurutnya, sudah ada negara yang hancur dan pecah belah gara-gara people power, sebut saja Suriah.

"Maka, jangan Suriahkan Indonesia. Jika pun ada permasalahan dalam penyelenggaraan Pemilu, kita bisa tempuh jalur hukum yang berlaku sesuai undang-undang. Jangan ambil tindakan sendiri yang berpotensi membuat perpecahan," tuturnya.

Andi menegaskan, siapa pun presiden terpilih yang sesuai dengan konstitusi nantinya, maka semua pihak harus menerimanya, karena sudah pilihan rakyat. Namun, pemimpin yang terpilih harus mampu menciptakan rasa aman, damai, rukun, tertib dan bersatu bagi bangsanya.

"Hal demikian sudah menjadi kewajiban seorang pemimpin. Sebaliknya pemimpin yang kalah dalam pertarungan pilpres, tidak boleh mengedepankan egonya dengan melakukan gerakan-gerakan yang bisa menimbulkan perpecahan berbahaya bagi bangsa. Karena sejatinya, masyarakat ingin kedamain dan kerukunan, keadilan dan kesejahteraan. Bukan perpecahan yang menakutkan," ujarnya.

(Baca Juga: 22 Mei, Wiranto Imbau Masyarakat Beraktivitas seperti Biasa)

KPU RI

BEM Jakarta merupakan gabungan dari BEM Kampus STEBANK Islam Jakarta, Universitas Islam Jakarta, Universitas Az Zahra, Unindra, MPU Tantular, Stemik Jayakarta, UNTAG, Universitas At Tahiriyah, UBK, UIC, Universitas Islam As-syafi’iyav, Uhamka, UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Jayabaya dan beberapa mahasisa lainnya.

Gerakan BEM Jakarta juga mendeklarasikan:

1. Siap menjaga keutuhan NKRI, Pancasila dan UUD 1945

2. Mendukung TNI-Polri dalam melakukan pengamanan dan penegakan hukum agar terciptanya situasi yang aman, damai, rukun, tertip dan kondusif.

3. Kami menolak rencana gerakan people power yang membahayakan bangsa

4. Stop menyebar info hoax, fitnah, hasut yang berpotensi mengakibatkan perpecahan bangsa.

5. Mari merajut silaturahmi dengan bersatu dan berkeluarga dalam bingkai NKRI.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini