Subak, kata Putu Eka, merupakan cerminan keunikan Indonesia dan Bali. Masyarakat dan petani yang ada di sana haruslah sejahtera karena subak telah menjadi WBD. Selain itu, fasilitas publik di sana harus dipercantik karena subak juga telah menjadi tempat wisata. Namun pembangunan fasilitas publik di sana tidak boleh mengganggu kelestarian subak itu sendiri.
"Karena sudah WBD tentu orang pada datang. Namanya home stay, restoran perlu ditata kembali. Namanya destinasi wisata perlu sekian persen fasiilitas publik. Jangan sampai orang datang toilet aja nggak ada. Jadi diatur dalam zonasi aja," terang dia.
Putu Eka menegaskan, pihaknya sudah banyak menjalankan program untuk melestarikan subak sebagai warisan budaya dunia sebagaimana diakui UNESCO. Upaya pelestarian itu juga dilakukan bersama-sama stakeholder lainnya. Karena itu, ke depan ia meminta seluruh pihak membuktikan komitmennya untuk melestarikan subak agar tetap terjaga sebagai warisan budaya yang tidak lekang oleh waktu.
"Semua stakeholder harus komitmen, tidak hanya saya saja tapi semua yang ada didalamnya. Baik tokohnya, subak itu sendiri, masyarakat, pemerintah baik lokal maupun nasional. Karena ini image dunia, Indonesia dan Bali. Semua harus menjaga," pungkas Putu Eka.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.