Redaksi memilih Presiden RI karena tokoh ini dinilai seorang presiden yang berasal dari rakyat biasa, tidak pernah mimpi dan berekspektasi menjadi seorang pejabat apalagi menjadi seorang Presiden di sebuah negara muslim terbesar di dunia.
"Redaktur Arrajol menegaskan bahwa presiden yang berhasil terpilih kedua kalinya ini dikenal pribadi yang tawadluk (andap asor), murah senyum, berpihak ke rakyat kecil dan “NADHAFATAL YAD” (tangannya sangat bersih), tangan yang bersih dari korupsi dan bersih dari sifat zalim terhadap rakyatnya," kata Maftuh Abegebriel.
"Di sampul majalah ini tertulis sebuah diksi yang puitis yang membikin kami trenyuh sekaligus bangga sebagai anak bangsa yang sedang menjalankan tugas sebagai pelayan WNI di Arab Saudi," tambah Maftuh Abegebriel.
Tulisan tersebut berbunyi: Rais Indonesia Joko Widodo; Isytu fi al-Kouh Taghmuruha al-Miyah, Wa Lam Ahlum bi Mansib Hakim Wilayah (Presiden RI Joko Widodo: Saya pernah hidup di rumah gubuk yang selalu kebanjiran, saya tidak pernah bermimpi menjadi pejabat).
Di halaman 18 yang ditampikan foto selfie Presiden, dipaparkan bahwa Presiden Jokowi berasal dari keluarga miskin, anak seorang penjual perabotan rumah tangga. Bukan berasal dari keluarga pejabat, bukan dari petinggi partai ataupun perwira tinggi militer. Impian Presiden hanyalah keinginannya yang serius untuk menaikan ekonomi bangsa Indonesia.
Tentang Indonesia yang majemuk dan harmoni serta sikap Indonesia terhadap terorisme dan kisah jatuh bangun Jokowi dalam merintis usaha dagangnya dipaparkan gamblang di halaman 21 dan dilanjutkan dengan penegasan Presiden bahwa Indonesia sangat bangga memiliki dua organisasi besar yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyyah yang selalu menyuarakan nilai-nilai Islam moderat dan bekerjasama dengan pemerintah dalam menebarkan Islam Rahmatan lil Alamin.