Pada tahun 1911, prasasti ini dipindahkan ke Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen kini Museum Nasional.

Pada tahun 1973, diadakan penggalian arkeologi di lokasi penemuan Prasasti Tugu. Dalam penggalian tersebut ditemukan sejumlah pecahan gerabah dari berbagai jenis, pola hias, dan ukuran yang mempunyai persamaan dengan gerabah Kompleks Buni.
Pada Prasasti Tugu ini terdapat pahatan hiasan tongkat yang ujungnya dilengkapi semacam trisula. Gambar tongkat tersebut dipahatkan tegak memanjang ke bawah seakan berfungsi sebagai batas pemisah antara awal dan akhir kalimat-kalimat pada prasastinya.
Baca: Cerita Kampung Bandan: Dulu Penampungan Budak hingga Masjid Tua Al Mukarromah
Baca: Murtado Jago Silat Betawi Si Macan Kemayoran
Mengutip Ensklopedia Jakarta (Eni Setiati Dkk, 2009), Ahli Filologi Prof Ng Poerbatjaraka menguraikan, kata Candrabhaga dalam Prasasti Tugu menjadi dua kata, yakni Candra dan Bhaga. Kata Chandra dalam bahasa sangsekerta adalah sama dengan kata “sasi” dalam bahasa Jawa Kuno.