nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sebanyak 318 Lokasi Eksekusi Publik Korea Utara Telah Diidentifikasi

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 13 Juni 2019 12:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 13 18 2066013 sebanyak-318-lokasi-eksekusi-publik-korea-utara-telah-diidentifikasi-UNiKw96lAS.jpg Foto: Reuters.

SEOUL - Sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) Korea Selatan mengklaim telah berhasil mengidentifikasi 318 lokasi yang digunakan oleh Pemerintah Korea Utara untuk melakukan eksekusi publik.

Transitional Justice Working Group (TJWG) mewawancarai 610 pembelot Korea Utara selama empat tahun untuk membuat laporan tersebut. Laporan itu mendokumentasikan hukuman mati yang dilakukan karena berbagai alasan mulai dari pencurian sapi sampai menonton saluran televisi Korea Selatan.

Kelompok hak asasi manusia itu mengatakan bahwa eksekusi-eksekusi tersebut dilakukan di dekat sungai, lapangan, pasar, sekolah, dan lapangan olahraga.

Dalam laporan berjudul “Mapping the fate of the Dead” yang dirilis pada Selasa, TJWG menyebutkan bahwa eksekusi publik disaksikan oleh sedikitnya 1.000 orang.

Keluarga para terdakwa, termasuk anak-anak, terkadang dipaksa untuk menyaksikan eksekusi mati itu. Namun, jasad dan lokasi pemakaman orang-orang yang dieksekusi jarang sekali diberikan atau diungkap kepada pihak keluarga.

Menurut kesaksian para pembelot yang diwawancarai, usia termuda yang menyaksikan eksekusi publik tersebut adalah tujuh tahun.

Beberapa eksekusi publik juga terjadi di dalam fasilitas penahanan seperti penjara dan kamp-kamp kerja paksa - di mana orang-orang yang dihukum karena kejahatan politik dipaksa melakukan pekerjaan fisik seperti pertambangan dan penebangan.

Seorang pembelot yang ditahan di sebuah kamp kerja pada awal 2000-an menggambarkan bagaimana 80 narapidana dipaksa untuk menyaksikan pembunuhan tiga wanita yang dituduh berusaha melarikan diri ke China.

Laporan itu mengatakan bahwa eksekusi publik adalah “metode utama untuk membangkitkan ketakutan dan menghalangi warga untuk terlibat dalam kegiatan yang dianggap tidak diinginkan oleh rezim ".

Para pembelot mengatakan bahwa sebagian besar eksekusi dilakukan oleh regu tembak. Cara ini sering melibatkan tiga penembak yang masing-masing menembakkan tiga ronde ke tubuh orang yang dihukum. Beberapa orang yang diwawancarai mengutip kejadian-kejadian di mana mereka yang melaksanakan eksekusi tampak mabuk.

"Ini karena membunuh adalah hal yang sulit dilakukan secara emosional,” kata salah seorang pembelot sebagaimana dilansir BBC, Kamis (13/6/2019).

NGO itu juga melaporkan bahwa jumlah eksekusi publik mulai berkurang atau dihentikan sejak 2005.

"Sepertinya jumlah eksekusi publik sedang dalam tren menurun, tetapi bahwa Pyongyang mungkin hanya beroperasi dengan lebih banyak kerahasiaan, karena mencari pengakuan sebagai negara normal," kata Ethan Shin, salah satu penulis laporan itu kepada AFP.

Dalam beberapa tahun terakhir sejumlah eksekusi telah dilaporkan terjadi terhadap pejabat tinggi Korea Utara, namun laporan-laporan tersebut sulit diverifikasi kebenarannya, bahkan seringkali terbukti salah.

Pada 2013, penyanyi populer Korea Utara Hyon Song-wol dituduh telah dieksekusi di depan umum, dengan sebuah surat kabar Korea Selatan mengatakan dia tewas "dalam hujan tembakan senapan mesin sementara orkestranya menyaksikan".

Tetapi, Hyon Song-wol kemudian muncul kembali pada 2018 sebagai bagian dari delegasi Korea Utara yang mengunjungi Seoul menjelang Olimpiade Musim Dingin.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini