nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peristiwa 13 Juni: Konfrontasi Indonesia-Malaysia hingga Kecelakaan Pesawat Garuda di Jepang

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Kamis 13 Juni 2019 06:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 13 337 2065882 peristiwa-13-juni-konfrontasi-indonesia-malaysia-hingga-kecelakaan-pesawat-garuda-di-jepang-KG26ICxawI.jpg Presiden Soekarno menyebut Federasi Malaysia sebagai "boneka Inggris".

JAKARTA – Berbagai peristiwa sejarah pada 13 Juni terjadi di belahan dunia yang patut diingat sepanjang masa.

Berdasarkan peristiwa bersejarah pada 13 Juni, seperti informasi dari wikipedia.org:

13 Juni 1944

V-1, peluru kendali pertama yang digunakan pada masa perang dijatuhkan di London, Inggris.

Peluru kendali pertama digunakan dalam sebuah operasi adalah peluru kendali Jerman dalam Perang Dunia II. Yang paling terkenal adalah V-1 dan V-2. Keduanya menggunakan sistem autopilot sederhana untuk menjaga arah terbang peluru agar tetap pada yang rute telah ditentukan sebelumnya.

13 Juni 1964

Dikenal dengan peristiwa bentrokan besar antara gerilyawan Indonesia dan pasukan Malaysia di Sarawak, Borneo Britania.

Bentrokan ini merupakan perang mengenai masa depan Malaya, Brunei, Sabah, dan Sarawak yang terjadi antara Federasi Malaysia dan Indonesia pada 1962 hingga 1966.

Awalnya, Federasi Malaya berkeinginan menggabungkan Brunei, Sabah, dan Sarawak ke dalam Federasi Malaysia yang tidak sesuai dengan Persetujuan Manila. Namun keinginan tersebut ditentang oleh Presiden Soekarno yang menganggap pembentukan Federasi Malaysia yang sekarang dikenal sebagai Malaysia sebagai "boneka Inggris" merupakan kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk baru serta dukungan terhadap berbagai gangguan keamanan dalam negeri dan pemberontakan di Indonesia.

13 Juni 1996

Garuda Indonesia penerbangan 865 jatuh di Bandara Fukuoka, Jepang. Pada 13 Juni 1996, ketika hendak lepas landas, kipas turbin depan mesin pecah dan terpisah dari poros mesin. Karenanya, kru berupaya membatalkan lepas landas, meskipun saat itu kecepatan pesawat sudah melebihi V1 (kecepatan maksimal lepas landas).

Garuda Indonesia penerbangan 865 (Wikipedia)

Ketika kru mencoba menghentikannya, pesawat itu meluncur keluar ujung landasan. Hal ini mengakibatkan pesawat meledak dan terbakar. Sebanyak 3 dari 275 penumpang tewas seketika. Investigasi menyatakan kerusakan turbin mesin GE CF6 tersebut diakibatkan keausan akibat masa pakai (kelelahan logam) lantaran di mana pihak Garuda belum mengganti turbin tersebut. Turbin tersebut beroperasi selama 30.913 jam terbang dan 6182 siklus pendaratan. Padahal, pihak pabrikan, General Electric, menganjurkan penggantian turbin setelah 6.000 siklus pendaratan. Pesawat tersebut dihapus dari armada Garuda setelahnya.


Baca Juga : Peristiwa 11 Juni: Wafatnya Gatot Soebroto hingga Terbentuknya Komisi Indonesia-Belanda

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini