nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Semburan Dusta di Indonesia Tak Bisa Raih Kemenangan Politik

Antara, Jurnalis · Minggu 16 Juni 2019 16:41 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 16 337 2067069 semburan-dusta-di-indonesia-tak-bisa-raih-kemenangan-politik-mDAYV21wqf.jpg ilustrasi

JAKARTA - Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia, Budiman Sudjatmiko, mengatakan masyarakat Indonesia harus menangkat semburan dusta yang dapat mempengaruhi kehidupan bermasyarakat.

Hal tersebut disampaikan Budiman dalam diskusi bertemakan Big Questions Forum Inovator 4.0 Indonesia ‘Kecerdasan Buatan dan Biopolitik; Membangun Masyarakat Kebal Semburan Dusta’.

Menurut Bumiman, masyarakat Indonesia telah mampu mengalahkan semburan dusta atau firehose of falsehood sepanjang penyelenggaraan Pemilu 2019.

"Kami menganalisa dalam forum ini karena di Indonesia kita bisa mengalahkan semburan dusta, dan semburan dusta di Indonesia tidak bisa mencapai kemenangan politik," kata Budiman, di Microsoft Indonesia, Gedung BEI, Jakarta, Minggu (16/6/2019).

Namun, Budiman menyatakan, semburan dusta tidak berhenti setelah Pemilu usai. Kabar bohong bertebaran dengan pola yang terstruktur, diulang-ulang, dan mengaduk-aduk emosi serta kepercayaan seseorang.

"Kebohongan jumlahnya tidak terhingga dan bisa disebarkan siapapun menggunakan berbagai saluran," ujar aktivis kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, tersebut.

Budiman Sudjatmiko (foto: Istimewa)

(Baca Juga: Beredar Ajakan Aksi Massa di MK, BPN: Dipastikan Itu Hoaks)

Politikus PDI Perjuangan ini menyampaikan, semburan dusta semakin dikeluarkan saat masyarakat penerimanya menyukai kabar bohong asal menyenangkan. Padahal, daya rusak semburan dusta begitu nyata, memengaruhi individu hingga bisa merusak tatanan sosial suatu bangsa.

"Semburan dusta ini tidak berhenti dan bikin kecanduan," ungkap Budiman.

Karena itu, Budiman menyerukan Indonesia harus membangun sumber daya manusia yang kebal semburan dusta dengan membuat gerakan studi otak dan genetik manusia. Inovator 4.0, kata Budiman, mengajak inovator di dalam dan luar negeri untuk terlibat dalam gerakan studi otak dan genome tersebut.

"Kita pasti bisa. Dulu sejarah kebebasan, lalu awal 2000 kita masuk era keadilan, sekarang Indonesia harus masuk masanya kemajuan," kata Budiman.

Selain Budiman, hadir juga sebagai narasumber diskusi yakni ahli neuro sains dari Tokyo University Hospital, DR Ryu Hasan; Kandidat Doktor dalam Rekayasa Genetik Universitas Oxford, Muhammad Hanifi; dan pendiri Bandung Fe Institute serta ahli kompleksitas, Hokky Situngkir.

Adapun Big Questions Forum akan digelar setiap bulab oleh Inovator 4.0 Indonesia. Budiman menyampaikan, tema diskusi akan berbeda dan sesuatu yang baru di Indonesia.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini