nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Karen Agustiawan Merasa Janggal dengan Kasusnya

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Senin 17 Juni 2019 21:38 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 17 337 2067572 karen-agustiawan-merasa-janggal-dengan-kasusnya-l0MVJIBV6O.jpg Karen Agustiawan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Galaila Agustiawan merasa janggal dengan kasus korupsi investasi Blok Basker Manta Gummy (BMG) yang menjeratnya. Kendati, ia telah divonis 8 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, pada 10 Juni 2019.

"Saya berpikir dan bertanya-tanya, siapa sebetulnya sponsor utama kasus BMG ini? Dan apa motifnya? Politik atau uang atau kedua-duanya? Atau hanya dendam pribadi karena urusan saudara yang tidak dipenuhi permintaannya?" kata Karen.

Karen mengganggap yang dikerjakannya murni untuk ekspansi bisnis Pertamina dan bukan untuk memperkaya diri. Ekspansi dalam dunia bisnis hulu migas merupakan hal yang biasa.

"Tidak masuk akal jika saya sengaja melanggar ketentuan untuk menguntungkan pihak/korporasi lain, dan merugikan perusahaan yang selama ini saya telah bekerja keras," katanya.

(Baca Juga: Mantan Dirut Pertamina Divonis 8 Tahun Penjara Terkait Kasus Korupsi)

Ilustrasi

Pada amar putusan vonis Karen, terjadi dissenting opinion atau perbedaan pendapat dari Hakim Anwar. Karen disebut tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi.

"Menyatakan terdakwa Karen Agustiawan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi berdasarkan dakwaan primer dan subsider," kata Anwar.

Investasi BMG dilakukan bersama direksi lainnya atau keputusan dalam investasi diambil secara kolektif kolegial. Kemudian, Karen bersama direksi Pertamina meminta persetujuan Dewan Komisaris saat investasi karena ada surat memorandum pada 2 April 2009.

(Baca Juga: Saksi: Akuisisi Blok BMG Berdasarkan Kajian Komprehensif dan Due Diligence)

Setelah permohonan akuisisi diterima, Komisaris Humayun Bosha menghubungi komisaris lain, Umar Said, dengan mengatakan tidak membolehkan akuisisi yang diajukan berdasarkan memorandum. Sebab, pengoperasian blok BMG tidak optimal dan tidak akan menguntungkan, serta tidak menambah cadangan minyak.

Anwar berpendapat Karen dan direksi lainnya ingin mengembangkan Pertamina dengan cara investasi di blok BMG guna menambah cadangan minyak. Perbedaan pendapat Karen dengan Dewan Komisaris dianggap tidak melawan hukum maupun menyalahgunakan kewenangan.

"Hakim anggota berpendapat lain, karena tidak serta-merta kerugian tersebut kerugian negara, karena tidak digunakan untuk kepentingan terdakwa, tapi kepentingan bisnis akuisisi blok BMG Australia dan pembayaran melalui transfer jelas lewat Bank Australia. Hal ini sesuai terungkap fakta persidangan Karen belum terbukti adanya memperkaya diri sendiri atau dirinya sendiri," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini