Dikatakan, hal ini mengaburkan seakan-akan kubu Prabowo mewakili kekuatan transnasional yang menginginkan Pan Islamisme atau khilafah, suatu konsepsi yang juga mirip dengan sentimen anti China, yaitu konsepsi adanya ancaman asing.
Padahal, katanya, apa yang ada dalam kubu Prabowo demikian kompleks dari segi ideologi, juga orientasi politiknya.
"Kesimpulan kita bahwa kedua kubu sebenarnya sama-sama ingin merespon tuduhan mengenai pengaruh asing dan itu bisa kita lihat sebagai kemunculan narasi yang berkenaan dengan loyalitas terhadap Pancasila dan bentuk NKRI," kata Imam lagi.
Inaya menjelaskan, dalam riset mereka juga mewawancarai pelaku industri kampanye politik yang mengatakan bahwa kampanye politik paling efektif direkayasa, dimobilisasi, dibangun sentimennya melalui plafrom Facebook, Instagram, Twitter dan WA.
"Hal ini dibangun sejak demokrasi dan desentralisasi mulai berlaku di Indonesia. Sebab, kapital-kapital yang digunakan untuk mobilisasi pendukung setiap kandidat itu mulai turun ke level propinsi dan kabupaten di setiap momen pilkada," jelasnya.
Dijelaskan, ada perusahaan konsultan politik, lembaga polling, digital marketing agency yang sekaligus memiliki sayap digital.
"Mereka memiliki data analytics, dianalisis lalu diover ke digital marketing, dimobilisasi sentimennya, dimonitoring sehari-hari, dicari kata-kata kunci mana yang menjadi viral lebih efektif, dan kata-kata itulah yang muncul seperti Komunisme, Cina, Khilafah, Ummah, Islam diserang, kepentingan asing, dsb," papar Inaya.
Panelis menduga disinformasi ini efektif karena materi yang disebarkan memang tidak jelas antara fakta dengan fiksi sehingga tidak penting benar atau tidaknya berita tersebut. "Yang penting dekat di hati," katanya.
Selain itu, kata Inaya, disinformasi narasi Orba ini juga efektif karena tema itu diajarkan melalui struktur sosial yang bersifat indoktrinasi.
Struktur sosial dimaksud meliputi kurikulum nasional, sekolah negeri, institusi agama dan media yang terpusat di bawah pemerintah sehingga membentuk semacam "hidden curriculum" yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
"Mengapa hidden curriculum berhasil sekarang meskipun telah melewati proses demokratisasi, karena narasi yang menempel di kepala itu kemudian masuk ke mekanisme pasar yaitu industri politik, dan ketika hal itu bisa menghasilkan uang, narasi tersebut hidup lagi di ruang demokratis," paparnya.
"Menurut kami itulah yang terjadi sekarang," tambah Inaya Rakhmani.
(Salman Mardira)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.