Rintangan Perempuan Lolos ke Parlemen

Salman Mardira, Jurnalis · Kamis 20 Juni 2019 12:15 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 20 606 2068669 rintangan-perempuan-lolos-ke-parlemen-0G2NAV0VTg.jpg Ruang sidang DPR RI (Dok Okezone)

DARA Adinda Kesuma Nasution (24) puas dengan hasil kerjanya selama kampanye Pemilu 2019, meski akhirnya gagal terpilih jadi anggota DPR RI karena tak cukup suara. Tapi, ia belajar banyak hal dari pengalaman pertama terjun ke politik.

“Kami belajar banyak dari pileg ini. Perlu perbaikan infrastruktur dan gerakan di grassroot yang lebih masif,” kata calon legislatif (caleg) perempuan nomor urut 1 dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk daerah pemilihan III Sumatera Utara itu, beberapa waktu lalu.

Lulus pendidikan dari Universitas Indonesia pada 2017, Dara baru kali ini ikut Pemilu. Tapi, ia merasakan tantangan berat saat berkampanye karena kerap didiskriminasi oleh sebagian masyarakat.

“Banyak yang menganggap perempuan belum layak untuk ikut memikirkan persoalan-persoalan masyarakat. Kadang kapasitas kita dipertanyakan, bisa apa?” tutur Dara.

“Sering juga dilecehkan secara online, misalnya dari komentar-komentar di Facebook yang nadanya seksis. Dibilang cuma modal tampang, cuma jadi pelengkap kuota.”Dara Nasution

Dara Adinda Kesuma Nasution (Okezone)

Sebagian orang juga masih meragukannya karena terlalu muda.

“Itu yang lebih terasa sih. ‘Ih masih muda banget, apa enggak prematur tuh langsung DPR RI?’ Gitu-gitulah. Jadi terasa sekali gimana masyarakat masih menganggap bahwa anak muda itu enggak bisa ngapa-ngapain,” ujar Dara.

Dara berhasil meraih 10.275 suara, meski harus bersaing dengan politikus senior seperti Djarot Saiful Hidayat (PDIP), Hinca Panjaitan (Demokrat), Ahmad Doli Kurnia (Golkar) di daerah pemilihannya.

Irma Suryani Chaniago, caleg perempuan Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dapil II Sumatera Selatan juga gagal ke parlemen setelah hanya mendapat 66.800 suara. Padahal statusnya masih anggota DPR RI.

“Itulah yang namanya kontestasi, ada yang menang dan ada yang kalah,” kata sang aktivis buruh yang kini jadi juru bicara Tim Pemenangan Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin.

Irma mengaku faktor kekalahannya karena kurang kampanye. Ia lebih fokus memenangkan Jokowi-Ma’ruf Amin, ketimbang mencari suara untuk dirinya sendiri. Masalah lain adalah keuangan.

“Kalah dari isteri bupati,” ujarnya. Istri bupati dimaksud adalah Sri Kustina, caleg separtainya di dapil sama yang meraih 90 ribu suara dan lolos ke Senayan.Pangi Syarwi

Pangi Syarwi Chaniago (Okezone)

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, uang dan program bukan jaminan bagi caleg untuk terpilih.

“Yang penting pandai membaca selera apa yang disenangi, dibutuhkan atau disukai rakyat, disenangi perempuan dan emak emak,” katanya.

Nasib tak mujur juga dialami caleg perempuan PSI, Grace Natalie dan Tsmara Amany yang meski meraih suara terbanyak tapi gagal jadi anggota DPR RI, karena suara partainya tak memenuhi syarat ambang batas parlemen (parlementary threshold) 4 persen.

Grace Natalie yang maju di dapil Jakarta III meraih 179.949 suara, terbanyak dibandingkan caleg lain. Sedangkan Tsamara Amany meraup 103.599 suara dari dapil Jakarta II.

Tapi, PSI keseluruhan hanya mendapat 2.650.361 suara atau 1,89 persen.

Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini menilai, pemberlakuan parlementary threshold 4 persen jadi salah satu penghambat caleg perempuan masuk DPR.

“Mereka yang berpotensi ke parlemen bisa terhambat karena partai politiknya tidak lolos," katanya.

Beberapa caleg perempuan dari partai baru seperti PSI dan Perindo dinilai potensial lolos, tapi terganjal suara partai yang tak sampai 4 persen.

Dari 16 partai politik nasional peserta Pemilu 2019, hanya sembilan yang bisa mengirimkan wakilnya ke parlemen.

PDIP di peringkat pertama dengan 27.053.961 suara atau 19,33 persen. Disusul Gerindra 17.594.839 (12,57 persen), Golkar 17.229.789 suara (12,31 persen), PKB 13.570.097 suara (9,69 persen), Nasdem 12.661.792 suara (9,05 persen), PKS 11.493.663 suara (8,21 persen), Demokrat 10.876.507 suara (7,77 persen), PAN 9.572.623 suara (6,84 persen) dan PPP 6.323.147 suara (4,52 persen).

Tujuh lagi gagal yakni Perindo 3.738.320 suara (2,67 persen), Berkarya 2.929.495 (2,09 persen), PSI 2.650.361 (1,89 persen), Hanura 2.161.507 (1,54 persen), PBB 1.099.848 (0,79 persen), Garuda 702.536 (0,50 persen) dan PKPI 312.775 (0,22 persen).

Keterpilihan perempuan

Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI) mencatat, jumlah caleg perempuan terpilih jadi anggota DPR RI di Pemilu 2019 mencapai 20,5 persen, naik 3 persen dari periode sebelumnya.

Direktur Eksekutif Puskapol UI, Aditya Perdana mengatakan, ini capaian tertinggi sejak 2004. “Diperkirakan perolehan caleg perempuan terpilih mencapai 118 kursi,” katanya.Caleg Perempuan

Aksi peduli perempuan (Okezone)

Jumlah caleg perempuan di Pemilu 2019 sebanyak 3.194 orang, dari 7.968 total caleg yang mendaftar. Ini terbanyak sebanyak sejarah. Mereka bersaing untuk 575 kursi DPR RI.

Raihan 20,5 persen kursi signifikan dibandingkan periode 2014-2019 yang hanya 97 perempuan atau 17,32 persen dari total 560 anggota DPR. Pada 2009-2014, ada 100 perempuan jadi anggota parlemen.

Paling banyak meloloskan caleg perempuan adalah Nasdem. Mereka menggolkan 19 perempuan atau 32,2 persen dari total 59 calon, partai pertama yang tembus 30 persen sejak pertama kali kebijakan afirmasi diberlakukan.

PPP meloloskan 26,3 persen caleg perempuan. Golkar 21,2 persen, PKB 20,7 persen, PDI Perjuangan 20,3 persen, Demokrat 18,5 persen, Gerindra 18,4 persen. PAN dan PKS masing-masing 16 persen.

Meski belum memenuhi target 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen, Pangi Chaniago menilai, hasil pemilu ini lebih baik.

“Ini bagus sebetulnya dari angka afirmatif action 30 persen caleg perempuan, artinya dari tiga caleg satu harus perempuan, yang lolos 20,5 persen. Ini sudah sinyal positif dan relatif bagus,” katanya.Pemilu 2019

Pemilih memberikan suara di Pemilu 2019 (Reuters)

Menurut Aditya, 53 persen caleg terpilih perempuan berlatar belakang aktivis partai politik atau berpengalaman ikut pemilu. 41 persen diindikasikan memiliki afiliasi kekerabatan politik seperti keluarga, dinasti ataupun klan.

“Namun demikian, pengurus partai yang juga memiliki keluarga politik juga menguatkan keterpilihan mereka,” katanya.

Sekira 6 persen berasal dari kalangan profesional yang baru pertama kali ikut pemilu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini