nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mencari Kebenaran di Kamp 'Reedukasi' Muslim Uighur di China

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Minggu 23 Juni 2019 13:25 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 06 23 18 2069850 mencari-kebenaran-di-kamp-reedukasi-muslim-uighur-di-china-BA3IuzvVES.jpg Bangunan kamp dengan pengamanan ketat di Xianjiang, China (BBC)

Merujuk pada tanggal ketika kebijakan re-edukasi dimulai, seorang pejabat senior menatap mata saya dengan tajam.

"Tidak ada satu pun serangan teror di Xinjiang dalam 32 bulan," ujarnya. "Ini tugas patriotik kami."

'Oh hatiku jangan hancur'

Tapi dalam menerima akses ini, tugas kami ialah berusaha mengintip di balik pesan resmi dan meniliknya secermat mungkin yang kami bisa.

Kami mengambil gambar beberapa grafiti, ditulis dalam bahasa Uighur, yang belakangan kami terjemahkan.

Pada satu grafiti tertulis "Oh hatiku jangan hancur". Grafiti lainnya dalam bahasa China hanya berbunyi: "Selangkah demi selangkah."

Ada jawaban-jawaban dalam wawancara lebih lanjut dengan para pejabat pemerintah, yang mengungkap banyak tentang sifat sistem ini.

Mereka di dalam kamp "nyaris menjadi kriminal," kata mereka. Muslim Uighur dipandang sebagai ancaman bukan karena mereka telah melakukan kejahatan, tapi karena mungkin memiliki potensi untuk berbuat jahat.

Dan ada pengakuan bahwa, ketika diidentifikasi memiliki kecenderungan ekstremis, mereka diberikan pilihan – tapi tidak banyak.Muslim Uighur

Pilihannya ialah "memilih antara persidangan atau pendidikan di fasilitas de-ekstremisasi".

"Kebanyakan orang memilih belajar," kami diberi tahu. Tidak mengherankan, mengingat peluang mereka mendapatkan persidangan yang adil.

Dan kami tahu, dari sumber lain, bahwa definisi ekstremisme kini ditarik sangat lebar — punya jenggot panjang, misalnya, atau sekadar menghubungi saudara di luar negeri.

Kami melihat asrama tempat para "ekstremis" ini tidur, sampai 10 orang per kamar, di ranjang tingkat dengan satu toilet di ujung, ditutupi hanya dengan selembar kain tipis.

Dan kemudian ada pertanyaan hati-hati yang mengungkap banyak, bukan dalam apa yang mereka katakan, tapi yang tidak mereka katakan.

Saya bertanya kepada seorang pria, yang telah berada di dalam kamp selama delapan bulan, berapa banyak orang yang ia lihat "lulus" selama waktu itu.

Ada jeda sebentar sebelum ia menjawab. "Tentang itu, saya tidak tahu sama sekali," ujarnya.

Hanya satu suara dari dalam sistem penawanan massal yang diduga menahan lebih dari satu juta orang berdasarkan etnisitas dan keyakinan mereka.

Betapapun samar dan sunyinya, kita harus mendengarkan dengan seksama apa yang mungkin dikatakan suara itu kepada kita.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini