Potret Miris Kondisi Perawat Kesehatan yang Wafat di Pedalaman Papua

Chanry Andrew S, iNews.id · Minggu 23 Juni 2019 23:29 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 23 340 2069957 potret-miris-kondisi-perawat-kesehatan-yang-wafat-di-pedalaman-papua-MvShXyVFiR.jpg Dokter Patra semasa hidup (foto: ist)

WASIOR - Patra Marina Jauhari, potret miris kondisi petugas kesehatan di pedalaman Provinsi Papua Barat yang wafat karena sakit dan diabaikan pemerintah.

Patra merupakan salah satu petugas kesehatan berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengabdikan dirinya di pedalaman Papua Barat selama 10 tahun. Dirinya rela meninggalkan keluarganya di Palopo, Sulawesi Selatan, demi membantu warga Kampung Oya, Distrik Naikere, Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat.

Kampung Oya di Kabupaten Teluk Wondama diketahui sebagai daerah terpencil dan merupakan perbatasan dengan Kabupaten Kaimana. Bahkan, untuk bisa mencapai kampung tersebut, orang harus menghabiskan waktu tiga hari dan tiga malam dengan berjalan kaki. Alternatif lainnya, kalau mau cepat, adalah menggunakan helikopter, tetapi tentu biayanya tidak sedikit.

Patra dilaporkan meninggal dunia pada Selasa (18/6/2019), tetapi jenazahnya baru ditemukan rekannya pada Jumat (21/6/2019) Akibatnya, saat ditemukan, jenazahnya sudah mengeluarkan bau tak sedap.

 Dokter tewas ketika dievakuasi

Jenazahnya lalu diberangkatkan ke Wasior, Ibu Kota Kabupaten Teluk Wondama, dengan helikopter pada Sabtu (22/6). Saat tiba di Wasior, kondisi jenazah almarhum Patra Marinna Jauhari tampak hanya dibungkus menggunakan kain dan dimasukkan di dalam kantong jenazah.

Ratusan kerabat dan kawan-kawan almarhum tak henti-hentinya menangis saat menjempu jenazah di bandara, mereka seakan tak percaya kalau Patra harus meninggal secepat itu.

Patra (ASN Perawat) yang meninggal dunia di kampung Oya Distrik Naikere merupakan petugas kesehatan yang sedang melaksanakan tugas pelayanan medis di kampung tersebut.

Dari informasi yang didapat, informasi Meninggalnya Patra diketahui dari seorang warga kampung Oya, Tadius Mufara (28) warga kampung Oya yang membawa informasi setelah Patra Marina Jauhari Meninggal dunia,

"Patra Marina (ASN Perawat) Jauhari mengalami sakit sekitar 2 Minggu dengan gejala sakit kepala dan muntah dan dehidrasi (kekurangan cairan),"ungkap Tadius warga kampung Oya.

 Keluarga korban

Ironisnya, selama sakit ada warga masyarakat yang diutus ke kota Wasior untuk melaporkan kondisi kesakitan petugas medis tersebut kepada pihak Puskesmas Naikere dan Dinas Kesehatan dan Pemda Teluk Wondama namun tidak ada tindak lanjut untuk menjemput petugas medis yang sakit tersebut.

Patra Meninggal dunia pada hari Selasa 17 Juni 2019 sekitar pukul 22.00 WIT di kampung Oya selanjutnya, pada 18 Juni 2019 pukul 04.00 WIT Tadius Mufara melakukan perjalanan dari kampung Oya dan tiba di kampung Sararti pada 21 Juni 2019 dan bertemu dengan Ibu Sovia Wamafma (Patugas Kesehatan Puskesmas Naikere) dan informasi tersebut dilanjutkan ke Dinas Kesehatan dan keluarga di Wasior/ dan pada Sabtu 22 Juni 2019 jenazah Patra baru dapat di evakuasi ke kota Wasior ibu kota teluk Wondama.

Saat almarhum mengalami sakit selama sekitar 2 Minggu warga masyarakat dan petugas kesehatan lain telah menyampaikan informasi ke Dinas Kesehatan dan Pemda Teluk Wondama namun tidak ada tindak lanjut untuk menjemput hingga petugas medis tersebut meninggal dunia.

Jenazah akan disemayamkan di rumah duka di kampung Manggurai Distrik Wasior direncanakan untuk dilakukan pengiriman jenazah ke Sulawesi dan jika tidak dimungkinka akan dilakukan pada 23 Juni 2019 di TPU Manggurai.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini